Pemilik kapal, perusahaan pelayaran Thailand Precious Shipping, mengonfirmasi kerja sama dengan pihak berwenang. Mereka fokus menyelamatkan tiga awak yang masih hilang. Perusahaan juga mengungkap fakta baru: kapal mereka terkena tidak cuma satu, tapi dua proyektil.
Lalu, siapa dalangnya? Pertanyaan itu masih menggantung. Belum bisa dipastikan apakah Mayuree Naree termasuk dalam tiga kapal komersial lain yang dilaporkan UK Maritime Trade Operations diserang di Teluk pada hari yang sama. Data pelacakan kapal menunjukkan posisi terakhir Mayuree Naree di dekat pantai Oman, bergerak sangat lambat hanya sekitar satu knot. Kapal sepanjang 178 meter dengan bobot 30.000 ton itu seharusnya sedang dalam perjalanan menuju Kandla, India.
Insiden ini, mau tidak mau, menambah daftar panjang ketegangan di kawasan. Latar belakangnya adalah eskalasi konflik baru-baru ini, di mana Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara tetangga pengekspor minyak. Situasi ini langsung mengancam jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Dan seperti biasa, ancaman itu berimbas pada kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Suasana makin mencekam.
Artikel Terkait
Kapolda Banten Pastikan Stok Bahan Pokok dan BBM Aman untuk Mudik Lebaran 2026
Anggota DPRD NTT Paulus Lobo Serap Aspirasi dan Salurkan Bantuan untuk Pertanian-UMKM di Sikka
Buron Interpol Kasus TPPO dan Scamming Ditangkap di Bandara Bali
Wanita 22 Tahun Curi Rp2,6 Juta di Minimarket dengan Modus Pura-pura Belanja