Praktik beragama, dalam pandangannya, harus mampu memberdayakan. Secara sosial, tentu saja. Tapi juga secara ekonomi, sambil tetap menjaga pencerahan spiritual.
"Dengan kata lain, agama harus dirasakan manfaatnya dalam kehidupan masyarakat," ungkapnya.
Namun begitu, Kamaruddin menegaskan bahwa upaya ini sama sekali bukan untuk mengubah ajaran agama. Bukan itu maksudnya. Yang didorong adalah perubahan orientasi atau sudut pandang dalam mempraktikkannya. Agar lebih relevan dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.
"Kami tidak mengubah agama," tegasnya.
"Yang kami dorong adalah perubahan orientasi dalam beragama agar praktik keagamaan benar-benar memberi dampak dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan sosial, dan dalam kehidupan masyarakat secara luas."
Pada akhirnya, kualitas keberagamaan seseorang atau sebuah komunitas bisa diukur dari sini: seberapa besar nilai-nilai agama itu menghadirkan kemaslahatan bersama.
"Jika keberagamaan kita ingin lebih bermutu dan berkualitas, maka keberagamaan itu harus menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan," pungkas Kamaruddin menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Trump Klaim Iran di Ambang Kekalahan, Perintahkan Intensifikasi Serangan
KPK Tetapkan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Suap Kuota Haji
Jadwal Salat 22 Ramadan 1447 H untuk Medan, Kamis 12 Maret 2026
KPK Periksa Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji