Kenaikan harga energi, lanjut Gandung, otomatis akan membebani industri. Sektor-sektor seperti petrokimia, logam dasar, sampai semen dan pupuk sangat bergantung pada energi sebagai komponen biaya produksi utama. Mereka paling sensitif terhadap fluktuasi harga.
"Industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk serta berbagai subsektor industri pengolahan lainnya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi," ungkapnya.
Di sisi lain, legislator dari Dapil Yogyakarta ini juga mengingatkan soal dampak tidak langsung. Stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional adalah penopang kinerja ekspor manufaktur Indonesia. Jika dunia gonjang-ganjing, ekspor kita bisa ikut tersendat.
Karena itulah, Gandung mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi. Dia mengajak semua pihak untuk duduk bersama memikirkan langkah strategis. Tujuannya jelas: melindungi industri nasional dari guncangan yang mungkin datang dari seberang lautan.
"Sebab, perkembangan situasi geopolitik global tentunya berdampak pada kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia yang selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional," pungkas Gandung.
Artikel Terkait
Jerman Evakuasi Diplomat dari Irak Menyusul Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel
Korlantas Andalkan Teknologi Digital untuk Atur Rekayasa Lalu Lintas Mudik 2026
Arteta: Arsenal Layak Bawa Pulang Kemenangan dari Markas Leverkusen
Polda Jateng Ungkap Produksi Mi Berformalin di Boyolali Sejak 2019