Guna mendapatkan kejelasan, seorang anggota DPR pun bergerak. Brendan Boyle, dari Pennsylvania, yang juga anggota senior Partai Demokrat di Komite Anggaran DPR, meminta Kantor Anggaran Kongres (CBO) untuk menganalisis biaya sesungguhnya dari konflik ini.
Surat resminya tanggal 5 Maret lalu berisi permintaan yang cukup detail. Boyle ingin CBO mengkaji “biaya operasional, logistik, dan dukungan perang di Iran,” termasuk biaya langsung dan tidak langsung dari penggunaan kekuatan militer.
Tak cuma itu, ia juga minta estimasi untuk “biaya tambahan lain” seperti operasi diplomatik dan bantuan luar negeri. Yang menarik, Boyle menyoroti soal biaya peluang. Misalnya, apa dampaknya terhadap kemampuan AS merespons potensi agresi China jika kapal induk di dekat Taiwan harus dipindahkan ke kawasan Iran?
Dampak perang terhadap harga-harga juga diminta untuk dianalisis. Boyle ingin kajian ini dibuat dalam beberapa skenario. Bagaimana jika perang berlarut-larut lebih dari empat atau lima pekan? Atau, yang lebih ekstrem, bagaimana jika Amerika Serikat benar-benar mengerahkan pasukan darat ke Iran?
Permintaan Boyle ini seperti upaya untuk menarik selubung, untuk melihat gambaran utuh di balik angka-angka yang selama ini hanya jadi desas-desus. Di Capitol Hill, ketegangan politik jelas terasa. Sementara di Timur Tengah, situasi masih panas. Dan rakyat Amerika, di tengah semua ini, mungkin hanya bisa bertanya: untuk apa semua miliaran dolar ini dikeluarkan, sementara urusan di dalam negeri sendiri masih banyak yang terbengkalai?
Artikel Terkait
Ketua KAUMY DK Jakarta Serukan Penghentian Konflik dan Perdamaian di Timur Tengah
KIP Perintahkan UGM Buka Dokumen Akademik Jokowi, dengan Penyensoran
Atletico Madrid Hajar Tottenham 5-2, Bayern Muenchen Gencet Atalanta 1-6 di Liga Champions
Anggota DPR Sebut OTT KPK yang Jerat Bupati dan Wakil Bupati sebagai Bencana