Ancaman gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja kian mengkhawatirkan. Menanggapi hal ini, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendesak adanya peningkatan upaya deteksi dini di lingkungan sekolah. Baginya, ini adalah langkah krusial untuk melindungi generasi penerus bangsa.
"Langkah kolaborasi sejumlah pihak terkait untuk mengatasi secara menyeluruh ancaman kesehatan jiwa siswa di sekolah harus mendapat dukungan bersama,"
Demikian pernyataan Lestari yang dirilis Selasa (10/3/2026). Seruannya ini bukan tanpa alasan. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan di awal tahun 2026 cukup mencengangkan: sekitar 5% anak dan remaja di Indonesia menunjukkan gejala gangguan jiwa, dengan depresi dan kecemasan menjadi yang paling menonjol.
Angkanya bahkan lebih detail dan memprihatinkan. Lestari menyebutkan, 34,9% remaja berusia 10-17 tahun berisiko mengalami masalah mental. Namun begitu, dari jumlah yang besar itu, hanya segelintir tepatnya 2,6% yang benar-benar mendapat penanganan profesional. Sebuah kesenjangan yang teramat lebar.
Di sisi lain, upaya konkret mulai bergulir. Sehari sebelumnya, Senin (9/3), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan telah menjalin kerja sama dengan Kemendikdasmen. Inti kolaborasi ini adalah program skrining atau deteksi dini masalah mental siswa. Caranya? Dengan membekali para guru kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan pada peserta didik mereka.
Menurut Lestari, pembekalan untuk guru itu harus segera direalisasikan. Pasalnya, guru yang setiap hari berinteraksi dengan siswa adalah garda terdepan dalam menjaring masalah-masalah kesehatan mental di sekolah. Tapi, peran guru saja tidak cukup.
Artikel Terkait
DPRD Sumsel Rencanakan Pengadaan Meja Biliar Senilai Rp 486 Juta, Tuai Sorotan
AS Bom Telak Fasilitas Bawah Tanah Iran, Fokus Lumpuhkan Produksi Rudal
Polri dan Wartawan Bagikan 1.500 Takjil di Sekitar Mabes, Sampaikan Pesan Mudik
Mensos Gus Ipul Dorong Pemberdayaan Ekonomi dan Pendidikan di Pasuruan