Jaksa Korsel Tuntut Tambahan 30 Tahun Penjara untuk Mantan Presiden Yoon atas Kasus Drone ke Korea Utara

- Sabtu, 25 April 2026 | 10:15 WIB
Jaksa Korsel Tuntut Tambahan 30 Tahun Penjara untuk Mantan Presiden Yoon atas Kasus Drone ke Korea Utara

Seoul Jaksa khusus Korea Selatan kembali menyerang. Pada Jumat, 24 April 2026, mereka mengajukan tuntutan tambahan buat mantan Presiden Yoon Suk-yeol. Hukumannya? 30 tahun penjara lagi.

Yoon saat ini sudah mendekam di balik jeruji besi. Tapi kasusnya belum selesai. Ia dituduh mengirim drone militer ke wilayah Korea Utara pada tahun 2024. Bukan main-main, ini urusan serius.

Menurut jaksa, perintah infiltrasi itu sengaja dibuat untuk menciptakan alasan. Alasan buat apa? Untuk deklarasi darurat militer yang ternyata gagal total. Akibatnya, Yoon kena pemakzulan, dipecat dari jabatan, dan bahkan dihukum seumur hidup atas dakwaan pemberontakan. Tapi ternyata, itu belum cukup.

Dalam pernyataan resmi, jaksa khusus bilang tuntutan baru ini diajukan karena tuduhan membantu musuh. Pihak kejaksaan menambahkan, upaya Yoon merekayasa kondisi perang sudah merusak keamanan negara secara serius. Bukan cuma itu, mereka juga khawatir dengan dampaknya.

Melansir kantor berita Yonhap, jaksa berpendapat operasi ini meningkatkan ketegangan dengan Korea Utara. Lebih parah lagi, ada kebocoran informasi rahasia negara. Beberapa drone jatuh di wilayah lawan dan itu berarti rincian kapabilitas militer ikut terbongkar.

Upaya Pemberontakan

Sebelumnya, Yoon sudah dijatuhi hukuman seumur hidup pada Februari lalu. Ia terbukti memimpin pemberontakan yang bertujuan melumpuhkan Majelis Nasional. Tapi ia tidak tinggal diam. Banding diajukan. Yoon bersikeras bahwa deklarasi darurat militer itu demi kepentingan bangsa. Entah siapa yang percaya.

Di sisi lain, masalah drone ini masih jadi duri dalam hubungan kedua Korea. Secara teknis, kedua negara masih dalam status perang. Bulan ini, Presiden Korea Selatan saat ini, Lee Jae Myung, menyampaikan penyesalan kepada Pyongyang. Hasil investigasi menunjukkan pejabat pemerintah memang mengirim drone ke wilayah Utara pada Januari lalu.

Menariknya, adik perempuan Kim Jong Un yang berpengaruh sempat memuji pernyataan Lee. Katanya, itu perilaku bijak. Tapi harapan untuk rekonsiliasi cepat memudar. Negara yang terisolasi secara diplomatik itu kembali menyebut Korea Selatan sebagai musuh paling bebuyutan. Lagi-lagi, ketegangan.

Presiden Lee Jae Myung sudah berjanji memperbaiki hubungan. Ia ingin menghentikan segala bentuk provokasi seperti yang dilakukan pendahulunya. Bahkan, ia mengisyaratkan permintaan maaf resmi mungkin diperlukan atas tindakan Yoon soal drone ini. Tapi apakah itu cukup? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar