IDXChannel – Pemerintahan Donald Trump baru saja menjatuhkan sanksi ekonomi ke sebuah kilang minyak independen di China. Bukan cuma itu, sekitar 40 perusahaan pelayaran dan kapal tanker ikut kena imbas. Semuanya diduga terlibat dalam pengangkutan minyak dari Iran.
Ini bukan sekadar gertakan. Langkah ini adalah realisasi dari ancaman yang selama ini digembar-gemborkan Trump: menjatuhkan sanksi sekunder ke perusahaan atau negara mana pun yang masih mau berbisnis dengan Iran.
Menurut laporan Associated Press, Sabtu (25/4/2026), sanksi ini muncul hanya beberapa minggu sebelum Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di China. Waktunya cukup menarik, bukan?
Salah satu yang kena sanksi adalah fasilitas milik Hengli Petrochemical, tepatnya di kota pelabuhan Dalian. Kilang ini punya kapasitas olah sekitar 400.000 barel minyak mentah per hari. Angka itu menjadikannya salah satu kilang independen terbesar di China.
Departemen Keuangan AS bilang, Hengli sudah menerima kiriman minyak mentah Iran sejak 2023. Dari situ, mereka disebut menghasilkan ratusan juta dolar yang pada akhirnya mengalir ke militer Iran.
Sebelumnya, pada Februari 2025, kelompok advokasi United Against Nuclear Iran sudah memperingatkan hal ini. Mereka menyebut Hengli sebagai salah satu dari puluhan pembeli minyak Iran di China.
Memang, China adalah pembeli terbesar minyak Iran. Sebelum perang AS-Israel dengan Iran pecah, sekitar 80 sampai 90 persen minyak Iran laris manis di sana. Tapi, cara pengirimannya cukup licik.
Minyak itu diangkut pakai kapal-kapal ‘bayangan’ yang menyamarkan asal-usulnya. Jadinya, minyak Iran masuk ke China seolah-olah berasal dari Malaysia atau negara lain. Biasanya, pembelinya adalah kilang-kilang kecil yang dikenal dengan sebutan ‘teapot refineries’.
Di sisi lain, Iran punya syarat sendiri. Mereka sebelumnya menyatakan, salah satu syarat untuk mengakhiri perang adalah pencabutan sanksi. Tapi, jelas saja AS tidak serta-merta mengabulkan.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Jumat lalu menegaskan bahwa lembaganya akan terus mempersempit ruang gerak. Kapal, perantara, dan pembeli yang membantu Iran menyalurkan minyak ke pasar global akan terus diburu.
Awal bulan ini, departemen Bessent bahkan sudah mengirim surat ke lembaga keuangan di China, Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman. Isinya ancaman: kalau masih tetap berbisnis dengan Iran, sanksi sekunder akan dijatuhkan. Mereka juga menuduh negara-negara itu membiarkan aktivitas ilegal Iran mengalir lewat sistem keuangan mereka.
Namun begitu, sanksi ini terjadi di tengah situasi yang kacau. Perdagangan energi global sedang berantakan akibat perang di sekitar Teluk Persia. Pengiriman minyak dan gas alam terhambat, harga pun melonjak.
Menariknya, Departemen Keuangan AS juga mencoba meredam dampak kenaikan harga. Mereka mengeluarkan pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Rusia. Ada juga pengecualian satu kali untuk minyak Iran yang sudah berada di laut. Semacam kompromi, mungkin.
Sampai berita ini ditulis, Associated Press masih berusaha menghubungi pejabat China untuk mendapatkan tanggapan. Belum ada jawaban.
Tapi, kita tahu sikap China sebelumnya. Mereka tidak setuju dengan sanksi sepihak AS. Namun, perusahaan besar dan bank di China biasanya tetap patuh. Alasannya sederhana: mereka sangat bergantung pada sistem keuangan global yang didominasi AS.
Sebelumnya, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, sudah angkat bicara. Katanya, penggunaan sanksi semacam ini merusak tatanan dan aturan perdagangan internasional. Ia juga menilai sanksi itu mengganggu pertukaran ekonomi dan perdagangan normal, serta melanggar hak dan kepentingan sah perusahaan dan individu China.
(NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
3.500 Pelari Siap Ramaikan Adhyaksa International Run 2026 di Bali, BNI Dukung Sport Tourism dan Digitalisasi
442 Jemaah Haji Kloter 5 Embarkasi Pondok Gede Berangkat ke Tanah Suci, Tiga Orang Tertinggal karena Sakit
China Perketat Investasi Asing ke Perusahaan Teknologi dan AI Usai Akuisisi Manus
Kemenperin Dorong Kemasan Kertas Aseptik sebagai Alternatif Ramah Lingkungan untuk Industri Makanan dan Minuman