Meta dan Microsoft PHK Ribuan Karyawan demi Genjot Investasi AI

- Sabtu, 25 April 2026 | 14:30 WIB
Meta dan Microsoft PHK Ribuan Karyawan demi Genjot Investasi AI

Warta Ekonomi, Jakarta -

Dua raksasa teknologi global, Meta Platforms dan Microsoft, sedang melakukan perombakan besar-besaran. Bukan tanpa alasan. Mereka ingin menggenjot investasi di kecerdasan buatan, atau AI. Caranya? Lewat efisiensi PHK dan program pensiun dini sukarela. Menurut laporan memo internal pada Kamis (23/4), Meta berencana memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja globalnya. Angka ini cukup fantastis. Bayangkan, per 31 Desember 2025, total karyawan mereka mencapai 78.865 orang. Artinya, gelombang PHK terbaru ini diperkirakan akan memukul sekitar 8.000 pekerja. Dalam laporan pendapatannya, Meta menegaskan langkah ini diambil agar perusahaan bisa "beroperasi secara efisien." Apalagi, beban biaya pengembangan AI terus melonjak. Mark Zuckerberg, sang bos, jelas punya target besar. Perusahaan yang dipimpinnya itu memproyeksikan belanja modal pada tahun 2026 akan melonjak tajam. Kisarannya? Antara 115 miliar hingga 135 miliar dolar AS. Kalau dirupiahkan, itu sekitar Rp1.986 triliun sampai Rp2.332 triliun. Peningkatan anggaran year-on-year ini sepenuhnya difokuskan untuk memperkuat infrastruktur bisnis inti dan inisiatif Meta Superintelligence Labs. Di sisi lain, Microsoft juga tidak tinggal diam. Mereka mengambil langkah penyesuaian operasional yang sedikit berbeda. Amy Coleman, Chief People Officer Microsoft, mengumumkan program pensiun sukarela satu kali lewat memo internal. Program ini ditargetkan bagi sebagian kecil karyawan lama di Amerika Serikat. Meski bersifat sukarela, menurut laporan media, langkah ini bisa mencakup ribuan pekerja. Ingat, total karyawan Microsoft yang berbasis di AS ada sekitar 125.000 orang. Sama seperti Meta, Microsoft saat ini tengah jor-joran mendanai infrastruktur AI. Pada laporan kuartal kedua tahun fiskal 2026 yang dirilis Januari lalu, belanja modal Microsoft tercatat mencapai 37,5 miliar dolar AS. Angka yang bikin melongo. Yang menarik, sekitar dua pertiga dari dana jumbo tersebut habis terserap untuk belanja perangkat keras jangka pendek. Utamanya, Graphic Processing Unit (GPU) dan Central Processing Unit (CPU). Jadi, uangnya benar-benar dipakai untuk perang perangkat keras. Nah, manuver kembar dari dua raksasa AS ini semakin menegaskan tren terbaru di industri teknologi. Perusahaan-perusahaan besar kini bersedia merampingkan basis biaya operasional. Mereka juga rela menyusutkan jumlah karyawan. Semua demi mengalihkan sumber daya ke dalam perlombaan infrastruktur, produk, dan talenta teknis di bidang kecerdasan buatan. Sebuah pertaruhan besar, memang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar