Korban jiwa akibat serangan Iran terhadap Kuwait telah mencapai dua belas orang. Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah, tak menyembunyikan kemarahannya. Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Selasa (10/3/2026), ia secara terbuka mengecam tindakan negara tetangga yang ia sebut sebagai "teman" itu.
"Negara kita telah menjadi sasaran serangan brutal," ujarnya dengan nada tegas.
Ia menekankan bahwa Kuwait sama sekali tidak mengizinkan wilayahnya baik darat, udara, maupun laut digunakan untuk operasi militer apa pun yang ditujukan kepada Iran. Menurutnya, pesan ini telah berulang kali disampaikan melalui jalur diplomatik. Namun begitu, serangan tetap terjadi.
Ini adalah pertama kalinya sang penguasa berbicara sejak serangkaian serangan dimulai pada 28 Februari lalu. Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan hak penuh dan inheren Kuwait untuk membela diri.
Artikel Terkait
Tiga Terpidana Kasus Suap Minyak Goreng Rp60 Miliar Ajukan Banding
Trump Kritik Pengangkatan Mojtaba Khamenei Sebagai Kesalahan Besar
Bareskrim Usut Dugaan Pelecehan Seksual Mantan Pelatih Atlet Panjat Tebing Sejak 2021
Trump Klaim Konflik dengan Iran Segera Berakhir, Waspadai Potensi Eskalasi di Bawah Pimpinan Baru