Gubernur Kalsel Soroti Relevansi Falsafah Waja Sampai Kaputing untuk Bangun Karakter Bangsa

- Senin, 09 Maret 2026 | 21:45 WIB
Gubernur Kalsel Soroti Relevansi Falsafah Waja Sampai Kaputing untuk Bangun Karakter Bangsa

Menariknya, prinsip semacam ini ternyata punya resonansi yang universal. Ambil contoh dari dunia olahraga. Jamar Johnson, seorang pelatih basket profesional, pernah bilang begini.

"Hambatan itu sebenarnya satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Tanpa rintangan, kemenangan jadi tak bermakna."

Pernyataan Johnson itu seperti gema dari falsafah "waja sampai kaputing" yang dibicarakan tadi. Intinya sama: ketangguhan mental adalah kunci.

Lalu, gimana cara mempraktikkannya dalam keseharian? Pertama, tentu saja dimulai dari niat. Niatnya harus membaja, tidak boleh setengah-setengah. Setelah itu, butuh peta jalan. Rencana yang jelas, meski fleksibel. Dan yang paling penting: eksekusi. Langkah nyata yang dilakukan terus-menerus, konsisten, tanpa kenal lelah.

Pada akhirnya, semangat "Waja Sampai Kaputing" ini lebih dari sekadar slogan. Ia adalah tantangan. Tantangan untuk tidak puas jadi yang baik-baik saja, tapi berusaha menjadi yang terbaik. Dalam kondisi apa pun. Karena menyerah, bukanlah sebuah pilihan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar