Terdakwa Kasus Mutilasi Tiara Ungkap Motif: Emosi yang Menumpuk

- Selasa, 10 Maret 2026 | 00:00 WIB
Terdakwa Kasus Mutilasi Tiara Ungkap Motif: Emosi yang Menumpuk

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Mojokerto yang sunyi, Alvi Maulana akhirnya bicara. Terdakwa tunggal kasus pembunuhan dan mutilasi Tiara Angelina Saraswati itu mengurai alasan di balik aksi kejinya. Di hadapan majelis hakim, ia mengaku emosinya sudah menumpuk begitu lama.

Sidang yang digelar Senin (9/3/2026) itu menegangkan. Hakim terus mengejar dengan berbagai pertanyaan, mencoba memahami motif di balik kekejaman yang mengguncang Mojo Kerto, Jawa Timur, itu.

Menurut Alvi, hubungannya dengan Tiara berawal dari pertemanan. Mereka satu tingkat di Universitas Trunodjoyo Madura. Setelah proses pendekatan sekitar tiga bulan, mereka pun resmi pacaran. Hubungan itu berjalan empat tahun, dan bahkan sempat hidup serumah selama setahun sebelum tragedi mengerikan itu terjadi.

"Saking emosinya, emosi sudah menumpuk, akumulasi, tidak ada motif lainnya Yang Mulia,"

kata Alvi, mengakui apa yang mendorongnya.

Setelah membunuh pacarnya itu, pikiran Alvi kacau balau. Di kamar mandi kos-nya, ia kemudian melakukan hal yang lebih mengerikan: memutilasi jenazah Tiara. Tujuannya sederhana sekaligus mengerikan: agar perbuatannya tidak ketahuan. Tubuh korban dipotongnya menjadi ratusan bagian.

"Niat mutilasi muncul beberapa saat setelah beliau (Tiara) meninggal. Pikiran saya saat itu pokoknya bagaimana caranya tidak ketahuan,"

ungkapnya polos, namun membuat bulu kuduk berdiri.

Ironisnya, untuk aksi mutilasi itu, ia memanfaatkan pengalamannya pernah menjadi panitia kurban. Malam harinya, dengan tenaga yang tersisa, ia membawa potongan-potongan jasad itu ke pinggiran jalur Pacet-Cangar. Tempat sepi di Dusun Pacet Selatan itulah yang ia pilih untuk membuang bukti kejahatannya.

Di akhir kesaksiannya, nada suaranya pelan, penuh penyesalan. Ia menyampaikan permintaan maaf.

"Saya ingin minta maaf kepada keluarga (Tiara) dan semua yang terdampak. Saya menyesal dengan semua yang saya lakukan,"

ujarnya. Permintaan maaf yang mungkin terdengar hampa bagi keluarga yang kehilangan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar