Kerja sama ini dinilai sangat efektif. Dengan mobilitas tinggi dan jangkauan yang luas ke semua lapisan masyarakat, para pengemudi ojol ibarat mata dan telinga tambahan bagi aparat. Mereka bisa melaporkan apa saja yang mencurigakan dengan cepat.
Di sisi lain, sistem panic button sendiri sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Edi mencontohkan, Polresta Malang adalah salah satu yang sudah menerapkannya lebih dulu. Hasilnya? Sistem itu terbukti ampuh mempercepat respons petugas.
"Sistem itu sangat efektif. Ketika ada gangguan keamanan dan tombol alat ini dipencet, personel kepolisian dengan cepat berdatangan," ungkap mantan anggota Kompolnas itu.
Harapannya jelas. Implementasi alat ini secara nasional bakal mempercepat layanan polisi di lapangan. Saat ada keadaan darurat atau tindak kejahatan, baik pengemudi ojol maupun warga biasa bisa segera mendapat pertolongan.
"Kami harapkan alat panic button bisa mempercepat pelayanan polisi di lapangan," pungkas Edi.
Artikel Terkait
Tiga Tewas dalam Kecelakaan Pikap Penuh Penumpang di Kebumen
Nadiem Bantah Tuduhan Pemerkayaan Rp6 Triliun dari SPT Pajak di Sidang Chromebook
Wali Kota Solo Pastikan Pengawasan Ketat untuk Program Makan Bergizi Gratis
Terdakwa Kasus Mutilasi Tiara Ungkap Motif: Emosi yang Menumpuk