Rudal-rudal Hizbullah terus menghujani posisi Israel dari seberang perbatasan. Yang menarik, serangan mereka disebut-sebut berhasil menembus sistem pertahanan udara Iron Dome yang selama ini digadang-gadang. Ironisnya, perisai besi itu kini terlihat rapuh.
Korban jiwa pun tak terhindarkan. Militer Israel mengonfirmasi dua tentaranya tewas di Lebanon selatan, Minggu pagi lalu. Salah satunya adalah Sersan Maher Khatar, 38 tahun, seorang operator alat berat dari unit teknik tempur. Pria asal Majdal Shams itu gugur dalam insiden yang berawal dari hal sepele: sebuah kendaraan lapis baja Puma mereka terjebak.
Upaya penyelamatan justru berujung petaka. Menurut penyelidikan awal IDF, saat kendaraan kedua dan dua buldoser lapis baja D9 dikerahkan untuk mengevakuasi, salah satu buldoser itu terkena proyektil. Bisa jadi rudal anti-tank atau mortir. Kebakaran hebat terjadi dan menewaskan kedua prajurit itu. Nama tentara kedua masih ditahan untuk pemberitahuan kepada keluarga.
Di sisi lain, kerusakan juga terjadi di wilayah Israel sendiri. Beberapa rumah di utara dilaporkan rusak. Ini bukan akibat serangan Hizbullah, melainkan dari tembakan helikopter Israel sendiri yang sedang berusaha menembak jatuh drone musuh. Militer mengakui insiden itu, menyebut sejumlah rumah terkena tembakan artileri dari helikopter yang menggunakan meriam 30mm. Untungnya, tak ada korban luka. Mereka berjanji menyelidiki.
Sementara itu, pertukaran serangan terus berlangsung sengit. IDF mengklaim telah menghancurkan beberapa peluncur roket Hizbullah di Lebanon selatan yang siap digunakan. Mereka juga menyerang sebuah peluncur yang baru saja memuntahkan roket ke kota Metula. Tak ketinggalan, seorang anggota Hizbullah dilaporkan tewas dalam serangan drone yang dipandu pasukan darat.
Namun begitu, Hizbullah tak tinggal diam. Kelompok itu mengeluarkan sederet pernyataan yang mengklaim sejumlah serangan balasan.
Mereka mengatakan telah menembakkan rentetan roket ke pangkalan Misgav, yang disebut sebagai fasilitas logistik penting. Serangan ini diklaim sebagai balasan atas serangan Israel ke puluhan wilayah di Lebanon, termasuk pinggiran selatan Beirut.
Tak hanya itu, dalam pernyataan terpisah, Hizbullah menyebut meluncurkan "rudal canggih" ke pangkalan angkatan laut Haifa. Sebelumnya, mereka juga mengklaim menyerang target yang sama. Bahkan, kota Nahariya di utara Israel disebut menjadi sasaran dua serangan drone, yang digambarkan sebagai bagian dari peringatan yang telah mereka keluarkan.
Bentrokan ini jelas telah memakan korban yang tidak sedikit. Sejak eskalasi pekan lalu, sekitar 200 anggota Hizbullah dan kelompok sekutunya dilaporkan tewas. Angka ini menurut klaim IDF, yang menyebut telah melancarkan lebih dari 600 serangan dengan menggunakan lebih dari 820 bom. Dari jumlah korban tewas itu, IDF menyebut termasuk 80 anggota pasukan elit Radwan dan 70 anggota artileri, plus sejumlah komandan tinggi.
Di lain pihak, data dari Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat angka yang lebih besar dan mengerikan. Menurut mereka, serangan Israel dalam seminggu terakhir telah menewaskan 394 orang. Perang per angka ini semakin menunjukkan betapa panasnya situasi di perbatasan itu, dan sejauh ini belum ada tanda-tanda akan mereda.
Artikel Terkait
Khalid Basalamah Kembalikan Rp8,4 Miliar ke KPK, Klaim Tidak Tahu Asal Usul Uang
Langit Mei 2026 Siapkan Dua Hujan Meteor dan Fenomena Blue Moon yang Langka
Ammar Zoni Divonis 7 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar atas Kasus Narkoba di Rutan Salemba
PSI Curi Curi Ada Agenda Tersembunyi di Balik Usulan Ambang Batas Parlemen untuk DPRD