Nah, dalam doktrin militer kita, ada tiga tingkatan siaga. Mulai dari Siaga 3, yang kondisinya masih normal semua kegiatan berjalan biasa, tanpa konsentrasi pasukan khusus. Lalu naik ke Siaga 2, di sini kewaspadaan sudah meningkat. Sebagian kekuatan siaga penuh, sementara sebagian lain masih menjalani rutinitas.
Puncaknya adalah Siaga 1. Ini tingkat kesiapan tertinggi. Semua pasukan sudah terkonsentrasi di titik-titik yang ditentukan. Semua alutsista siap beroperasi. Logistik perorangan pun jadi perhatian utama. Intinya, semua sudah berada di puncak kesiapan.
Di sisi lain, Hasanuddin menekankan bahwa meskipun penetapan status siaga adalah kewenangan penuh komando TNI, hal yang berbeda berlaku untuk operasi militer. Untuk menggelar operasi militer, TNI memerlukan persetujuan dari DPR RI. Ini poin penting yang sering kali luput dari perhatian.
Pemaparan mengenai tingkatan siaga ini dianggap krusial. Tujuannya sederhana: agar publik punya pemahaman yang tepat dan tidak langsung panik saat mendengar istilah-istilah teknis militer seperti "Siaga 1". Yang dibutuhkan sekarang adalah kejelasan, agar isu tak berkembang jadi bola liar yang justru meresahkan.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing