Menanggapi berbagai spekulasi, pemerintah Sri Lanka bersikukuh dengan posisinya. Mereka membantah keras klaim bahwa Colombo berada di bawah tekanan Washington untuk menghentikan proses kepulangan warga Iran. Otoritas setempat menegaskan bahwa semua tindakan akan berpedoman pada hukum internasional dan undang-undang domestik mereka sendiri, tanpa intervensi.
"Para korban selamat dari kapal Dena ditangani sesuai dengan hukum humaniter internasional," tegas pernyataan resmi mereka.
Bahkan, untuk memastikan semuanya berjalan benar, pemerintah telah menghubungi Komite Palang Merah Internasional guna meminta bantuan dan pendampingan.
Kisahnya ternyata tidak berhenti di situ. Pulau itu juga menjadi tempat perlindungan bagi 219 pelaut Iran lainnya. Mereka berasal dari kapal kedua, IRIS Bushehr, yang diizinkan masuk ke perairan Sri Lanka tak lama setelah insiden tenggelamnya Dena.
Kini, awak kapal Bushehr itu telah dipindahkan ke kamp Angkatan Laut Sri Lanka di Welisara, sebelah utara Kolombo. Kapal mereka sendiri sudah diambil alih oleh angkatan laut setempat.
Rencananya, Bushehr akan dibawa ke pelabuhan Trincomalee di timur laut. Tapi rencana itu tak semudah membalik telapak tangan. Kerusakan mesin, ditambah segudang masalah teknis dan administratif, membuat pemindahan itu tertunda. Masih harus dilihat bagaimana kelanjutannya.
Artikel Terkait
Longsor Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Korban Tertimbun Diduga Masih Ada
PSSI Kecam Penganiayaan Wasit dan Jurnalis Usai Laga Malut United vs PSM
Polisi Ciawi Amankan Pikap Curian lewat Penyamaran Jadi Calon Pembeli
Dolar AS Menguat sebagai Safe Haven di Tengah Gejolak Minyak dan Bursa