Dolar AS Menguat sebagai Safe Haven di Tengah Gejolak Minyak dan Bursa

- Senin, 09 Maret 2026 | 10:00 WIB
Dolar AS Menguat sebagai Safe Haven di Tengah Gejolak Minyak dan Bursa

Pasar bergejolak hebat pagi ini. Lonjakan harga minyak yang mendadak, ditambah dengan anjloknya bursa saham, membuat para investor berlarian mencari tempat aman. Dan pilihan mereka jatuh pada dolar AS. Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel yang semakin memanas menjadi pemicu utamanya. Harga minyak dunia bahkan sempat menembus angka US$ 110 per barel.

Mengutip Reuters, dolar AS melonjak 0,9% terhadap euro, mencapai level tertinggi sejak November lalu. Mata uang yang biasanya sensitif terhadap risiko seperti poundsterling, dolar Australia, dan Selandia Baru justru terperosok sekitar 1%. Sementara itu, harga minyak mentah Brent dan AS melesat lebih dari 20% pada titik puncaknya. Situasinya benar-benar panas.

Bob Savage, kepala strategi makro pasar di BNY, memberikan analisisnya.

"Minyak tetap menjadi saluran transmisi utama ke ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pasar mata uang. Kebangkitan dolar AS saat ini mengingatkan kita pada krisis energi di tahun 2022," ujarnya.

Faktanya, dolar memang sedang menikmati momentumnya. Setelah mencetak kenaikan mingguan terbesar dalam 15 bulan terakhir, ia kini tampil sebagai aset safe-haven yang paling konsisten. Ironisnya, emas justru melemah di tengah aksi jual besar-besaran terhadap aset-aset yang sebelumnya meroket.

Joe Capurso dari Commonwealth Bank di Sydney punya penjelasan menarik. Menurutnya, dolar diuntungkan oleh status gandanya.

"Dolar mendapat keuntungan dari perannya ganda: sebagai safe-haven dan sekaligus pengekspor energi," kata Capurso.

Ia juga memprediksi bahwa perang antara Iran dan AS kemungkinan akan meningkat sebelum akhirnya mereda. Iran, katanya, termotivasi untuk membalas demi mendapatkan posisi tawar di meja negosiasi nanti. Di sisi lain, AS dan Israel punya motivasi kuat untuk melumpuhkan kemampuan ofensif Iran.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar