Setelah 21 Tahun Hilang, Perempuan Migran Ini Akhirnya Bisa Memandang Wajah Cucunya

- Minggu, 23 November 2025 | 16:36 WIB
Setelah 21 Tahun Hilang, Perempuan Migran Ini Akhirnya Bisa Memandang Wajah Cucunya
Kisah Perempuan Migran

Selama 21 tahun, Seni hilang. Tak ada kabar, tak ada suara. Perempuan asal Temanggung, Jawa Tengah, ini baru bisa kembali berkomunikasi dengan keluarganya setelah dua dekade lebih terputus. Usianya kini 47 tahun.

Ismi, kakak Seni, masih ingat betul masa-masa awal adiknya berangkat. "Setahun awal masih ada kabarnya," kenang Ismi dalam bahasa Jawa, ditemui di rumahnya yang sederhana.

Mereka saling berkirim surat. Zaman dulu memang begitu belum ada HP yang memudahkan segalanya. Surat terakhir Seni tak berbeda dengan yang sebelumnya: sekadar kabar biasa, tanya kondisi keluarga di rumah, cerita keadaannya di Malaysia. Lalu, tiba-tiba, senyap.

Surat-surat yang dikirim keluarga tak pernah dibalas lagi. Ismi mengaku tak pernah menduga ada hal buruk menimpa adiknya. "Mestinya baik. Ngasih kabar gitu," ujarnya.

Namun begitu, setelah setahun berlalu, Seni seperti menghilang ditelan bumi. Keluarga berusaha mencari, tapi semua jalan seolah buntu.

Hingga suatu hari, polisi datang ke Dusun Letih. Mereka memberi kabar pada ketua RT: Seni ditemukan. Ternyata, selama ini dia disekap dan tak digaji oleh majikannya di Malaysia.

Kini, Seni sudah bisa menelepon. Lewat ponsel, dia bicara dengan anaknya, Riki Alfian, yang dulu ditinggalkannya saat masih balita baru tiga setengah tahun.

Sekarang Riki sudah menikah dan punya anak. Untuk pertama kalinya, Seni melihat wajah cucunya lewat layar ponsel. Semua keluarga menangis haru. Tapi Seni justru terlihat tegar.

Dia malah menyuruh kakaknya untuk berhenti menangis. Mungkin, setelah 21 tahun, yang dia inginkan hanyalah kembali merajut harapan bukan air mata.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar