Pantau – Iran menepis keras kabar soal rencana pertemuan langsung dengan Amerika Serikat di Islamabad. Meskipun Pakistan terus menjalankan perannya sebagai penengah, Teheran bersikukuh tidak akan duduk satu meja dengan AS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sudah tiba di Pakistan. Tujuannya? Hanya untuk bertemu pejabat setempat, bukan untuk berunding dengan pihak lain.
"Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS," tegas Baqaei. Ia menambahkan, "Pandangan Iran akan disampaikan kepada Pakistan."
Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang di media. Begitu pula dengan rumor soal mediasi yang katanya bakal berujung pada dialog langsung.
Pakistan Terus Mendekat, Iran Tetap pada Posisinya
Di tengah situasi yang memanas, Pakistan memang sedang giat-giatnya menjadi penengah. Mereka mencoba meredam ketegangan antara Iran dan AS yang sudah berlangsung cukup lama. Tapi, setidaknya untuk saat ini, Teheran belum menunjukkan tanda-tanda mau melunak.
Menurut Baqaei, dialog dengan Pakistan adalah bagian dari upaya diplomatik yang lebih besar. Tujuannya jelas: mengakhiri konflik dan mengembalikan stabilitas di kawasan. Namun, ia tidak menyebut secara spesifik apakah ada kemajuan berarti dari pembicaraan itu.
Di sisi lain, Gedung Putih punya cerita berbeda. Sebelumnya, mereka mengumumkan bahwa utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner akan kembali ke Pakistan. Keduanya dijadwalkan untuk terlibat dalam pembicaraan yang dimediasi langsung oleh Islamabad.
Negosiasi Masih Berjalan, Tapi Jalan Terjal
Pakistan disebut-sebut tengah mendorong putaran kedua perundingan. Putaran pertama sudah berlangsung pada 11–12 April lalu di Islamabad. Namun, hasilnya belum jelas, dan Iran masih pada pendiriannya.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan konfirmasi resmi. Katanya, "Saya dapat memastikan bahwa utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner akan ke Pakistan lagi besok pagi." Ia memuji peran Pakistan sebagai mediator yang luar biasa selama proses ini.
Semua ini terjadi di tengah konflik yang pecah sejak 28 Februari. Iran berhadap-hadapan dengan AS dan Israel. Dampaknya sudah terasa tidak hanya di kawasan, tapi juga ke ekonomi global.
Menariknya, gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak 8 April ternyata masih bertahan. Perpanjangan tanpa batas waktu telah disepakati, setidaknya sampai ada kesepakatan yang lebih konkret. Tapi ya, semua masih tergantung pada bagaimana negosiasi ke depannya.
Artikel Terkait
Polisi Gerebek Daycare di Jogja, 53 Balita Diduga Jadi Korban Kekerasan
Mualaf di Karawang Meningkat, MUI Catat 30 Persen dari WNA
Indonesia Kampanyekan Pencalonan Anggota Komite Warisan Budaya UNESCO 2026-2030 di Hadapan Negara OKI
Wamensos: Sekolah Rakyat Jadi ‘Jembatan Emas’ Putus Rantai Kemiskinan, Kuota Siswa Naik Jadi 45.000