Warga Teheran Borong Sembako dan Hadapi Kelangkaan di Tengah Eskalasi Konflik

- Jumat, 06 Maret 2026 | 17:30 WIB
Warga Teheran Borong Sembako dan Hadapi Kelangkaan di Tengah Eskalasi Konflik

Suasana kota digambarkan mencekam oleh Omid, pemuda 26 tahun. “Kehadiran pasukan keamanan di jalanan lebih ketat, tapi jalanannya sendiri kosong,” tuturnya. Beberapa toko di dekat area serangan memilih tutup. Omid awalnya mengira serangan hanya akan singkat, menargetkan figur tertentu seperti Ayatollah Ali Khamenei yang wafat Sabtu lalu. Tapi ledakan terus terdengar hingga Selasa siang. Itu yang akhirnya membuatnya ikut-ikutan menimbun barang.

Namun begitu, tidak semua warga memilih mengungsi atau pasif. Ada juga yang bersikeras bertahan dengan semangat perlawanan. Seperti Maryam, yang rumahnya bergetar akibat ledakan di dekatnya pada Senin malam.

“Serangan semalam sangat mengerikan,” tulisnya lewat pesan singkat.

Tapi dia memutuskan untuk tidak pergi. “Beberapa orang sudah meninggalkan Teheran, tapi kami tetap di rumah,” katanya dengan tegas. “Jika kami tidak terbunuh, kami akan tetap di sini selama ada seruan protes di jalanan, dan saya akan keluar bersama keluarga untuk bergabung.”

Baginya, serangan terhadap pejabat justru disambut. “Saya sangat senang para pejabat ini ditargetkan. Kami akan bertahan menghadapi serangan ini sampai mereka semua pergi.”

Di sisi lain, korban jiwa terus berjatuhan. Laporan Bulan Sabit Merah Iran menyebut sekitar 787 orang tewas sejak serangan dimulai 28 Februari. Konflik malah meluas. Militer Israel mengklaim menyerang kantor kepresidenan Iran dan infrastruktur lain. Video yang diverifikasi BBC juga menunjukkan ledakan di Pardis, timur ibu kota.

Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan serangan rudal dan drone besar-besaran ke target militer dan pemerintah Israel di Tel Aviv. Bahkan serangan dilaporkan merambah ke negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.

Situasinya benar-benar kacau. Dari kenaikan harga beras, blokir internet, hingga ledakan di pusat kota semua bercampur jadi satu. Warga Teheran seperti terjepit di antara ketakutan akan kelangkaan dan suara dentuman yang tak kunjung reda.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar