Angkanya sendiri kini berkisar 6.000 orang. Turun jauh dibanding pekan sebelumnya yang masih sekitar 11.000. "Dari minggu lalu 11.000-an, sekarang sudah 6.000-an," paparnya. "Target kita sebelum Idul Fitri mereka sudah masuk ke huntara atau menggunakan dana tunggu hunian."
Namun begitu, percepatan hunian saja tak cukup. Pemerintah juga paham, para penyintas butuh dukungan logistik selama masa transisi yang tak mudah ini.
Untuk urusan perut, dalam sepuluh hari ke depan BNPB masih akan menanggung kebutuhan makan pengungsi. Setelah itu, bantuan lauk pauk atau jadap dari Kemensos diharapkan sudah bisa berjalan.
"Setelah itu akan menggunakan uang lauk pauk atau jadup dari Kementerian Sosial," jelas Tito.
Dalam kunjungannya, Tito melihat langsung beragam model huntara yang dibangun. Rupanya, tiap hunian punya keunikan sendiri. Ada yang dibangun BNPB, ada pula hasil kerja Danantara, Kementerian PU, bahkan hasil swadaya masyarakat bersama relawan.
"Di BNPB misalnya tidak ada ranjang, tapi kelebihannya dapur dan toiletnya sendiri," ujarnya membandingkan.
"Sementara yang dibangun oleh Danantara dan Kementerian PU ada ranjang dan kipas angin, tetapi dapur dan kamar mandinya komunal."
Kunjungan kerja di Pidie Jaya itu tak dilakukan sendirian. Tito didampingi sejumlah pejabat, antara lain Mensos Saifullah Yusuf, Wagub Aceh Fadlullah, dan Dirjen Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA.
Artikel Terkait
Herdman Hadapi Kekosongan Skuad, Buka Peluang Pemain Muda di FIFA Series
Serangan Udara Guncang Teheran, Iran Balas ke Tel Aviv
Sinar Mas Wakafkan 2.000 Mushaf Alquran ke Dewan Masjid Indonesia
Polisi Ungkap Modus Baru Penipuan via Stiker QR Code di Jaksel