"Orientasinya jelas," tegasnya. "Transisi energi bisa kita percepat, sekaligus mengurangi subsidi. Dengan mengonversi dari PLTD diesel ke PLTS, akan ada efisiensi subsidi listrik yang signifikan."
Logikanya sederhana: kurangi ketergantungan pada BBM untuk pembangkit listrik, maka pengeluaran negara pun bisa ditekan. Menurut sejumlah analis, potensi penghematannya memang cukup menggoda.
Namun begitu, pekerjaan rumah Bahlil tak berhenti di situ. Ada target lain yang tak kalah menantang: mengkonversi sekitar 120 juta motor berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Waktunya cuma 3 sampai 4 tahun. Sebuah target yang, jujur saja, sangat ambisius. Tapi itulah yang harus digarap satgas ini.
Selain soal motor listrik, upaya elektrifikasi di pulau-pulau terpencil juga masuk dalam radar. Daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional akan mengandalkan PLTS skala kecil. Ini bagian dari komitmen perluasan akses energi, sekaligus bukti bahwa transisi energi harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial.
Jadi, dengan penunjukan Bahlil ini, pemerintah seolah ingin menunjukkan bahwa transisi energi bukan lagi wacana. Ia sudah masuk tahap eksekusi, dengan pemimpin lapangan yang punya track record. Tantangannya banyak, mulai dari teknis, pendanaan, hingga perubahan perilaku. Tapi langkah pertama sudah diambil. Tinggal menunggu aksinya di lapangan.
Artikel Terkait
Empat Tewas dalam Kecelakaan Mobil Tabrak Truk di Tol Indrapura-Kisaran
Presiden Prabowo Haru Saksikan Bukti Bantuan Indonesia untuk Palestina
Istri di Banten Tewaskan Suami dengan Golok Usai Bertengkar Soal Poligami
Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya Diduga Mangkir Pemeriksaan dan Lapor