Jadi, posisinya seperti berdiri di tepi. Tetap di dalam, tapi dengan satu kaki siap melangkah keluar. Bagi Prabowo, seperti yang ditangkap Hanif, BoP masih dianggap sebagai jalur paling realistis yang tersedia saat ini untuk mengupayakan perdamaian jangka panjang di Gaza. Ia masih melihat celah di sana.
Pandangan serupa juga mengemuka dari Nusron Wahid, tokoh NU yang juga menjabat sebagai Menteri ATR/BPN. Dalam kesempatan itu, Prabowo memang membahas perkembangan terkini geopolitik kawasan, termasuk detail keterlibatan Indonesia di BoP. Poin mundur jika tak ada kemajuan, sekali lagi, ditegaskan.
Jadi, narasi yang muncul dari Istana bukanlah komitmen buta. Melainkan sebuah keterlibatan yang waspada, penuh kalkulasi, dan selalu siap dievaluasi ulang. Semuanya bergantung pada satu hal: apakah forum itu benar-benar bisa membawa manfaat bagi Palestina dan tentunya, bagi Indonesia sendiri.
Artikel Terkait
Indonesia Tegur Meta Gagal Kendalikan Judi Online dan Disinformasi
Pernyataan Menteri ESDM Picu Antrean Panjang di SPBU, Anggota DPR Desak Pertamina Ambil Langkah
Kapolda Banten Perintahkan Pengamanan Ketat di Pelabuhan Merak Antisipasi Lonjakan Truk
Menteri Tito Targetkan Pengungsi Aceh Pindah ke Huntara Sebelum Lebaran