Langit Teheran, 28 Februari 2026, tiba-tiba berubah menjadi neraka. Operasi militer gabungan berkode Operation Roaring Lion dan Epic Fury menghujani kota itu dengan lebih dari seribu bom. Dalam serangan itu, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas. Balasan Iran datang dengan cepat dan menghantam: gelombang rudal balistik dan drone menyasar lima negara di kawasan Teluk. Hanya dalam hitungan jam, dunia terlempar ke jurang konflik paling berbahaya. Padahal, sebenarnya jalan keluar masih ada andai saja ada keberanian untuk mengambilnya.
Perang ini tak datang tiba-tiba. Ia adalah buah dari kegagalan diplomasi yang seharusnya bisa dihindari. Dampaknya sudah jelas terlihat: penderitaan manusia, ekonomi global yang terguncang, jalur perdagangan macet, dan tatanan internasional yang limbung. Semuanya membuktikan satu hal sederhana yang sering kita lupakan: perang bukan solusi. Tidak pernah.
Momentum Diplomasi yang Runtuh
Ironisnya, semua ini pecah hanya sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan optimisme. Di meja perundingan Jenewa, katanya, kesepakatan dengan Amerika Serikat sudah “dalam jangkauan”. Mediator Oman bahkan melaporkan negosiasi berjalan menjanjikan, menyentuh isu-isu sensitif seperti pengayaan uranium. Tapi momentum itu tiba-tiba ambruk. Dan dalam kevakuman yang menyusul, bom-bom pun mulai berjatuhan.
Ini adalah puncak dari eskalasi panjang yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Kita masih ingat pertukaran serangan Israel-Iran di 2024, lalu “Perang Dua Belas Hari” pada Juni 2025 yang sudah melibatkan AS secara langsung. Setiap babak bukannya meredakan ketegangan, malah memperdalam ketidakpercayaan. Ruang untuk berdiplomasi semakin sempit, sementara tekanan politik di dalam negeri masing-masing negara memaksa para pemimpin untuk tampil “kuat” di mata publik mereka.
Yang menyakitkan, kita sebenarnya punya cetak biru yang pernah berhasil. JCPOA 2015 kesepakatan nuklir Iran yang melibatkan AS, Rusia, China, dan negara-negara Eropa membuktikan bahwa diplomasi multilateral bisa bekerja. Tapi ketika perjanjian itu ditinggalkan pada 2018, bukan cuma Iran yang dirugikan. Seluruh arsitektur keamanan kawasan ikut ambruk. Dan kini, kita hanya memunguti puing-puingnya.
Korban yang Tak Bersalah
Dalam setiap perang, yang pertama membayar mahal selalu orang-orang biasa. Mereka yang tak punya suara di ruang-ruang rapat tertutup tempat keputusan perang diambil. Lebih dari seribu jiwa dilaporkan tewas di Iran pada gelombang serangan pertama. Korban juga berjatuhan di Israel dan negara-negara Teluk. Infrastruktur sipil rumah sakit, sekolah hancur berantakan.
Seorang gadis kecil meninggal karena serpihan bom di Kuwait. Di Iran, lebih dari 130 kota diserang serentak, memutus komunikasi dan layanan dasar bagi jutaan warga yang hanya bisa pasrah berlindung.
Luka lain yang tak kalah dalam adalah luka psikologis. Perang ini meletus di bulan Ramadan, bulan yang seharusnya diisi dengan refleksi, kedamaian, dan solidaritas.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam pernyataannya tanggal 1 Maret 2026 menegaskan sesuatu yang seharusnya tak perlu diperdebatkan lagi: perang hanya mendatangkan kemudaratan. Tak ada pemenang sejati ketika yang mati adalah warga sipil.
Hukum internasional pun tampak tak berdaya. Para pengamat, termasuk dari International Crisis Group, mempertanyakan dasar hukum serangan pre-emptive ini. Piagam PBB jelas: penggunaan kekuatan bersenjata hanya dibenarkan untuk menghadapi ancaman yang nyata dan mendesak, bukan yang masih bersifat dugaan.
Dewan Keamanan PBB? Seperti biasa, mereka terjebak dalam kebuntuan. Ini bukan sekadar masalah prosedur. Ini adalah bukti krisis kepercayaan terhadap sistem global yang sudah lama retak.
Guncangan Ekonomi yang Merambat
Dampak ekonominya nyata dan terasa sampai ke dapur rumah tangga. Bukan cuma angka-angka di layar bursa saham. Dalam hitungan jam setelah serangan pertama, harga minyak mentah Brent melonjak tajam. Analis Barclays memproyeksikan harga bisa tembus 100 dolar AS per barel.
Perusahaan pelayaran raksasa seperti Maersk dan Hapag-Lloyd langsung menangguhkan operasi di kawasan. Qatar menutup ruang udaranya tanpa batas waktu. Selat Bab el-Mandeb jalur vital penghubung Samudra Hindia ke Laut Merah dan Terusan Suez kembali menjadi zona bahaya, seiring ancaman dari kelompok Houthi.
Gangguan di jalur pelayaran ini efeknya global. Sekitar 12% perdagangan dunia lewat Terusan Suez. Bayangkan jika kapal-kapal terpaksa memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika: waktu tempuh bertambah dua hingga tiga minggu, biaya logistik melambung, dan harga barang di mana-mana ikut naik.
Artikel Terkait
Bazar Prime Ramadan Jakarta 2026 Digelar di Balai Kota, Dukung UMKM dan Beri Santunan
Pengendara Motor Tewas Tertabrak Bus TransJakarta di Bandengan
Jokowi Bocorkan Dua Poin Utama Pembahasan Prabowo dengan Tokoh Nasional
DPR Targetkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Disahkan pada 2026