Gandum di Afrika Timur, suku cadang di Asia Tenggara, komponen elektronik di Eropa semua terdampak oleh perang yang terjadi ribuan kilometer jauhnya. Negara-negara berkembang, yang ekonominya paling rentan, akan menanggung beban terberat. Kenaikan harga energi menghantam anggaran mereka dan menggerus daya beli masyarakat yang belum pulih benar dari pandemi. Jadi, ini bukan cuma urusan Timur Tengah. Ini urusan harga sembako kita semua.
Langkah Indonesia: Menjadi Jembatan
Di tengah kekacauan itu, Indonesia bergerak. Pada hari yang sama ketika bom pertama jatuh, 28 Februari 2026, Kementerian Luar Negeri RI mengeluarkan pernyataan resmi.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia menjadi fasilitator dialog. Bahkan, beliau bersedia terbang langsung ke Teheran jika diperlukan.
Ini bukan gestur kosong. Langkah ini berpijak pada politik luar negeri bebas-aktif yang jadi fondasi diplomasi Indonesia sejak 1955. Indonesia tidak memihak blok mana pun. Indonesia berpihak pada perdamaian. Dan justru karena itulah, suaranya punya bobot.
Iran menyambut hangat tawaran ini. Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyampaikan apresiasi atas “dukungan konsisten” Indonesia dan menyambut baik peran mediasi Presiden RI.
Media internasional dari Singapura hingga Pakistan juga menyoroti inisiatif ini sebagai secercah harapan di tengah kebuntuan.
Presiden Prabowo juga aktif menghubungi para pemimpin Teluk. Pendekatannya komprehensif, tidak memihak satu sisi. Dan itulah kuncinya: diplomasi yang dibangun di atas kepercayaan semua pihak.
Ini bukan kali pertama Indonesia dipanggil sejarah. Dalam banyak krisis sebelumnya, Indonesia lebih sering berperan sebagai penjembatan, bukan penyulut. Posisinya unik: negara berpenduduk Muslim terbesar, anggota G20, sekaligus pemimpin ASEAN yang dihormati. Kombinasi itu memberi Indonesia legitimasi yang langka untuk berbicara kepada semua pihak dengan tulus.
Perang Bukan Takdir
Poin terpenting yang harus kita pegang: perang ini bukan keniscayaan. Ia adalah buah dari kegagalan. Kegagalan imajinasi politik, kegagalan kesabaran diplomatik, dan kegagalan kita semua untuk memastikan meja perundingan selalu lebih menarik daripada medan tempur.
Sejarah sudah membuktikan. Konflik sekeras apa pun akhirnya berakhir di meja diplomasi. Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata. Perang Dingin tidak jadi perang panas karena ada jalur komunikasi yang tetap dijaga. JCPOA 2015 lahir dari ketegangan bertahun-tahun dan menunjukkan bahwa diplomasi multilateral yang tekun bisa berhasil.
Dunia sekarang butuh aktor-aktor yang berani menjaga ruang diplomatik tetap terbuka. Aktor yang tidak tergoda memilih sisi, tidak larut dalam logika eskalasi, dan pantang menyerah meski tekanan domestik besar. Indonesia, dengan rekam jejaknya dan kepemimpinan Presiden Prabowo yang proaktif, punya semua modal untuk menjadi aktor itu.
Tidak ada yang menang dari perang seperti ini. Ribuan nyawa melayang, perdagangan dunia kacau, kepercayaan hancur. Luka yang ditinggalkan butuh generasi untuk sembuh.
Perang ini tak dirindukan oleh siapa pun. Bukan oleh rakyat Iran yang merasakan ledakannya, bukan oleh keluarga yang kehilangan, bukan oleh pedagang yang gulung tikar. Bukan oleh siapa pun yang masih waras.
Karena itulah, setiap upaya untuk mengakhirinya termasuk tawaran mediasi tulus dari Indonesia bukan sekadar diperlukan. Itu adalah tindakan yang mulia.
Rahmat Aming Lasim. Pemerhati Timur Tengah, Diplomat Madya di Kemenlu. Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis.
Artikel Terkait
Bazar Prime Ramadan Jakarta 2026 Digelar di Balai Kota, Dukung UMKM dan Beri Santunan
Pengendara Motor Tewas Tertabrak Bus TransJakarta di Bandengan
Jokowi Bocorkan Dua Poin Utama Pembahasan Prabowo dengan Tokoh Nasional
DPR Targetkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Disahkan pada 2026