Tapi kritiknya juga masuk akal. Coba bayangkan: hanya kurang dari separuh publik yang yakin pada ketajaman mental presiden. Ditambah lagi, mayoritas merasa para pejabat di ibu kota sudah uzur. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang mengubah peta kekuasaan global jadi sangat sensitif. Demokrasi kan butuh legitimasi. Tindakan militer besar tanpa konsensus dalam negeri yang kuat justru berpotensi memperdalam polarisasi dan menggerogoti kepercayaan pada institusi.
Perkembangan di Iran juga menempatkan Amerika di persimpangan jalan yang rumit. Dengan wafatnya Khamenei, proses suksesi di Teheran bakal jadi ajang tarik-ulur antara faksi garis keras dan yang lebih pragmatis. Kalau kelompok militeristik yang berkuasa, konflik berpotensi meluas. Kalau terjadi kekosongan kekuasaan yang lama, ketidakstabilan dalam negeri Iran bisa merembet ke seluruh kawasan Teluk. Dua skenario ini sama-sama mengandung risiko besar bagi pasukan AS dan stabilitas global.
Jajak pendapat Reuters itu sendiri tidak menyatakan publik menolak kebijakan luar negeri Trump. Dukungan politiknya pun belum runtuh angka 40 persen di politik Amerika yang terbelah ini tetap signifikan. Tapi survei itu jelas memperlihatkan sebuah jurang persepsi. Mayoritas merasakan ada yang "tidak beres" dalam gaya kepimpinannya, meski sebagian lain tetap setia mendukung.
Ketegangan antara persepsi dalam negeri dan aksi di panggung global inilah yang kini mendefinisikan momen Amerika Serikat. Dunia tidak hanya memperhatikan rudal yang meluncur atau pangkalan yang diserang. Mereka juga mengamati, dengan cermat, bagaimana rakyat Amerika sendiri memandang pemimpin mereka. Di era sekarang, stabilitas kepemimpinan ternyata sudah jadi bagian dari kekuatan strategis suatu bangsa.
Serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran mungkin akan tercatat dalam sejarah sebagai titik balik geopolitik. Tapi pada saat bersamaan, ia juga menjadi cermin bagi politik domestik Amerika. Sebuah demokrasi besar menghadapi dilema: mengambil keputusan perang di saat warganya sendiri terbelah dalam menilai konsistensi dan stabilitas sang presiden. Angka-angka di polling itu tetap sama. Hanya saja, maknanya sekarang terasa jauh lebih berat.
Waode Nurmuhaemin.
Pakar kebijakan publik dan Research Fellow INTI Internasional University Malaysia.
Artikel Terkait
Bazar Prime Ramadan Jakarta 2026 Digelar di Balai Kota, Dukung UMKM dan Beri Santunan
Pengendara Motor Tewas Tertabrak Bus TransJakarta di Bandengan
Jokowi Bocorkan Dua Poin Utama Pembahasan Prabowo dengan Tokoh Nasional
DPR Targetkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Disahkan pada 2026