Angka-angka dari jajak pendapat Reuters/Ipsos pekan lalu cukup menohok. Mayoritas warga Amerika, tepatnya 61 persen, menilai Presiden Donald Trump semakin "erratic" seiring usia. Istilah itu, dalam percakapan politik, menggambarkan perilaku yang sulit ditebak dan tidak konsisten.
Di sisi lain, hanya 45 persen yang masih percaya ketajaman mentalnya cukup untuk menghadapi tantangan. Persetujuan publik terhadapnya sendiri mandek di angka sekitar 40 persen. Yang lebih luas lagi, hampir delapan dari sepuluh responden berpendapat para pejabat di Washington sudah terlalu tua untuk mewakili rakyat.
Data itu sebenarnya sudah berbicara sendiri. Tak perlu penjelasan berlebihan. Namun konteks global yang muncul belakangan ini membuatnya terasa lebih dalam, lebih relevan.
Beberapa hari setelah polling itu beredar, dunia diguncang peristiwa di Timur Tengah. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang berkuasa lebih dari tiga puluh tahun, tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel di Teheran. Pemerintah Iran langsung mengonfirmasi dan mengumumkan masa berkabung nasional. Serangan yang menarget pusat komando strategis ini dianggap sebagai pukulan paling telak terhadap rezim sejak revolusi 1979.
Kematian Khamenei jelas bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan biasa. Ini membuka pintu ketidakpastian yang lebar. Ingat, Iran bukan negara sembarangan. Pengaruhnya menjalar ke Irak, Suriah, Lebanon, hingga Yaman. Mereka punya kendali atas sejumlah milisi regional, menguasai jalur energi vital, dan posisinya di Selat Hormuz sangat strategis.
Responnya cepat. Hanya dalam hitungan jam, Iran sudah meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS serta target sekutu di kawasan Teluk. Gejolak langsung terasa. Harga minyak melonjak. Sekutu-sekutu Barat pun ramai-ramai menyerukan de-eskalasi.
Nah, di titik inilah jajak pendapat tadi menemukan makna barunya. Ketika mayoritas publik AS menyebut presiden mereka "erratic", istilah itu tiba-tiba punya bobot nyata. Ia muncul beriringan dengan kebijakan luar negeri yang agresif dan penuh risiko. Persepsi tentang ketidakpastian kepemimpinan kini bertabrakan dengan keputusan militer yang konsekuensinya bisa meluas jauh melampaui perbatasan.
Pendukung Trump tentu punya sudut pandang lain. Bagi mereka, serangan terhadap Iran adalah langkah tegas menghadapi rezim yang sudah lama menantang Amerika. Dunia yang berbahaya, menurut logika ini, membutuhkan pemimpin berani yang tak gentar mengambil risiko. Ketidakpastian justru bisa jadi alat strategis.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Parah, dan Meluas
Bazar Prime Ramadan Jakarta 2026 Digelar di Balai Kota, Dukung UMKM dan Beri Santunan
Pengendara Motor Tewas Tertabrak Bus TransJakarta di Bandengan
Jokowi Bocorkan Dua Poin Utama Pembahasan Prabowo dengan Tokoh Nasional