Mirae Asset Turunkan Target Harga Saham Unilever Usai Divestasi

- Kamis, 05 Maret 2026 | 10:45 WIB
Mirae Asset Turunkan Target Harga Saham Unilever Usai Divestasi

Mirae Asset Sekuritas Indonesia baru saja merevisi target harga saham Unilever. Raksasa barang konsumsi itu, belakangan memang sibuk melepas dua unit bisnisnya. Tindakan ini, meski dianggap positif untuk fokus dan neraca, ternyata punya dampak lain.

Analis Mirae, Yodhita Maureen Romindo, melihat pelepasan bisnis es krim dan Sariwangi punya dua sisi. Di satu sisi, bagus untuk penyederhanaan. Tapi di sisi lain, dalam jangka pendek, aksi ini justru bersifat dilutif terhadap laba perusahaan.

Karena itulah, Mirae memilih bersikap lebih hati-hati. Mereka kini memilih untuk menunggu dan melihat dulu. Bukti pemulihan volume penjualan pasca-divestasi itu yang dicari. Alhasil, target harga saham UNVR diturunkan ke level Rp2.200 per saham, dengan rekomendasi trading buy.

"Kami memilih untuk menunggu bukti yang lebih jelas bahwa pemulihan volume, produktivitas, dan perubahan komposisi produk kecantikan atau perawatan tubuh dapat mendorong pertumbuhan EPS yang lebih berkelanjutan," ujar Yodhita dalam risetnya Kamis lalu.

Meski menurunkan target, proyeksi mereka untuk Unilever tahun ini sebenarnya tak buruk-buruk amat. Pendapatan diprediksi tumbuh jadi Rp33,06 triliun, dengan operating profit sekitar Rp4,89 triliun. Angka ini menunjukkan keyakinan bahwa pemulihan volume bisa terjadi.

Namun begitu, risiko tetap mengintai. Pemulihan di tahun 2026 ini dinilai masih bisa lambat. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat, biaya bahan baku yang fluktuatif, dan persaingan di sektor FMCG yang makin ketat jadi tantangan serius. Tahun lalu saja, margin kotor Unilever sempat tertekan gara-gara kurs dan harga CPO.

"Tanpa operasi yang dihentikan, bisnis kini berpijak pada platform yang lebih ramping dengan posisi kas bersih, biaya SG&A yang secara struktural lebih rendah, serta portofolio yang lebih terfokus seiring transisi perusahaan menuju laba pasca-divestasi," jelas Yodhita lagi.

Intinya, divestasi ini mengubah wajah Unilever. Mereka jadi perusahaan FMCG yang lebih kecil skalanya, tapi mudah-mudahan lebih fokus pada produk-produk bermargin tinggi. Dorongan laba ke depan diharapkan datang dari bisnis inti: Home & Personal Care dan Food & Refreshment.

Sepanjang 2026, Unilever sendiri sebenarnya punya ekspektasi pertumbuhan penjualan sedikit di atas rata-rata pasar. Tapi, kuartal pertama tahun ini diprediksi bakal lemah. Penyebabnya? Pergeseran waktu Ramadhan dan Lebaran. Soal keuntungan, manajemen cuma beri panduan soal perbaikan margin yang moderat, yang diharapkan datang dari efisiensi dan struktur perusahaan yang sekarang lebih ramping.

"Secara keseluruhan, fokus perusahaan tetap pada pelaksanaan strategi 'merek utama plus produktivitas' untuk membangun kembali kualitas laba secara bertahap, daripada menjanjikan target pendapatan atau margin yang agresif," kata Yodhita menambahkan.

Lalu, bagaimana kinerja Unilever yang terakhir? Sepanjang 2025, penjualan bersihnya tercatat Rp31,94 triliun, tumbuh 4,31% dari tahun sebelumnya. Penyumbang terbesar tetap segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh. Yang menarik, laba bersihnya melonjak tajam jadi Rp7,64 triliun naik 126,83%! Tapi, angka fantastis ini masih termasuk laba dari penjualan bisnis es krim yang sudah dilepas.

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, punya penjelasan. Menurutnya, lonjakan laba ini buah dari upaya pemulihan yang gencar dilakukan perusahaan.

"Hasil kinerja kami sepanjang tahun menunjukkan bahwa momentum pemulihan yang telah kami bangun, terus menguat. Langkah-langkah disiplin dan perubahan struktural yang kami terapkan telah memberikan dampak yang berkelanjutan, tercermin dari pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas," tutur Benjie Yap dalam keterangan resminya.

Jadi, ceritanya kini ada di tangan Unilever. Bisakah mereka membuktikan bahwa langkah penjualan aset dan fokus yang baru ini benar-benar membuahkan hasil yang berkelanjutan? Semua mata tertuju pada kuartal-kuartal mendatang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar