Delapan Warga Luka Akibat Bentrok dengan Oknum TNI di Bendungan Way Rarem, Mediasi Capai Damai

- Jumat, 05 Juni 2026 | 22:00 WIB
Delapan Warga Luka Akibat Bentrok dengan Oknum TNI di Bendungan Way Rarem, Mediasi Capai Damai

Delapan warga dilaporkan mengalami luka-luka setelah terlibat bentrokan dengan sejumlah oknum anggota TNI di kawasan objek wisata Bendungan Way Rarem, Desa Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Kabupaten Lampung Utara. Peristiwa yang diduga dipicu oleh kesalahpahaman ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah video amatir memperlihatkan aksi saling kejar dan adu jotos di area bendungan, yang spontan memicu kepanikan di antara pengunjung yang berada di lokasi.

Meskipun sempat memanas dan mengakibatkan sejumlah remaja mengalami cedera, konflik tersebut kini berhasil diredakan secara kondusif. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kronologi kejadian bermula pada Kamis, 4 Juni 2026. Saat itu, sejumlah personel TNI tengah berada di kawasan Bendungan Way Rarem dalam rangka menjalankan tugas persiapan penguatan satuan brigade yang akan ditempatkan di wilayah tersebut, sekaligus melakukan aksi kerja bakti membersihkan tanaman eceng gondok yang memenuhi area bendungan. Namun, di sela-sela aktivitas tersebut, gesekan fisik dengan warga lokal justru pecah.

Akibat bentrokan itu, delapan remaja mengalami luka ringan, mayoritas pada bagian kepala. Seluruh korban luka langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis secara cepat. Menyikapi situasi yang berpotensi meluas, Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, bersama Komandan Kodim 0412 Lampung Utara, Letkol Infanteri Roni Faturohman, langsung turun tangan pada malam harinya untuk memimpin proses mediasi darurat. Pertemuan rekonsiliasi yang digelar secara tertutup tersebut turut dihadiri oleh pihak keluarga korban, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta unsur forkopimda terkait.

Tokoh adat sekaligus tokoh masyarakat Desa Pekurun, Hi Hanafi yang bergelar Tuan Suttan Rajo Pengeran, menyampaikan rasa prihatinnya yang mendalam atas insiden memilukan tersebut. Dia mengingatkan bahwa Bendungan Way Rarem selama ini dikenal sebagai ruang publik yang aman dan menjadi tempat favorit warga untuk bersantai bersama keluarga. Hanafi menilai, apabila memang terdapat perilaku atau tindakan dari para remaja setempat yang dirasa kurang sesuai atau melanggar norma di lokasi tersebut, aparat seharusnya mengedepankan tindakan persuasif.

"Penyelesaiannya seharusnya dilakukan melalui pendekatan persuasif dan dialog yang baik dari hati ke hati, bukan justru langsung direspons dengan tindakan kekerasan fisik," kata Hanafi saat memberikan keterangan.

Pasca-mediasi panjang yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan jajaran TNI, kedua belah pihak akhirnya legawa dan sepakat untuk melupakan ego masing-masing dengan menempuh jalur perdamaian. Dengan demikian, situasi di kawasan Bendungan Way Rarem kini kembali berangsur kondusif dan aktivitas masyarakat setempat berjalan seperti biasa.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags