Di sisi lain, para pemimpin dari kedua kubu tampaknya sedang bersiap untuk konflik yang berlarut-larut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sudah memberi isyarat. Dalam pernyataannya pada Senin (2/3), ia mengakui bahwa perang ini mungkin masih akan berlangsung "beberapa saat". Meski begitu, Netanyahu mencoba meredam kekhawatiran dengan menegaskan bahwa ia tidak akan memakan waktu bertahun-tahun.
Sementara dari Washington, nada peringatan justru semakin keras. Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat seniornya berulang kali menyebut bahwa konflik dengan Iran berisiko menelan lebih banyak korban jiwa dari pihak militer AS. Kekhawatiran itu muncul seiring dengan aksi balasan gencar yang dilancarkan Teheran.
Dan aksi balasan itu nyata skalanya. Data dari Komando Pusat AS (CENTCOM) yang dirilis Selasa kemarin cukup mencengangkan. Mereka mencatat, Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan tidak kurang dari 2.000 drone dalam berbagai serangan balasannya di seluruh kawasan Timur Tengah hingga saat ini. Angka itu menggambarkan intensitas pertukaran serangan yang sedang terjadi, dan sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Imigrasi Bogor Amankan 13 WN Jepang Pelaku Sindikat Penipuan Daring di Sentul
AS-Israel Serang Iran, Perluasan Konflik Ancam Stabilitas Timur Tengah
Presiden Prabowo Putuskan Nuzulul Quran Digelar di Istana Negara
Dubes Iran Tolak Mediasi Indonesia, Sebut Tak Ada Ruang Negosiasi dengan AS