Negara-Negara Teluk Hadapi Dilema Balas Dendam Usai Serangan Iran

- Rabu, 04 Maret 2026 | 15:45 WIB
Negara-Negara Teluk Hadapi Dilema Balas Dendam Usai Serangan Iran

Industri minyak dan gas, yang vital bagi kawasan, bisa jadi alat politik Iran. Langkah ini berpotensi mengirim guncangan ke seluruh ekonomi global. Tapi, strategi Teheran bisa jadi bumerang.

Risikonya, Iran justru mendorong negara-negara Teluk makin dekat dengan Washington. Bahkan, bisa saja mereka akhirnya bergabung dalam upaya perang dalam bentuk tertentu. Sampai saat ini, mereka masih menolak mengizinkan AS menggunakan wilayah udara dan teritorialnya untuk menyerang Iran. Tapi situasi bisa berubah. Kapan? Mungkin saja suatu saat mereka memutuskan untuk ikut dalam operasi militer.

Memang, mereka belum sampai di titik itu. Fokus utama masih pada pertahanan. Tapi banyak hal tergantung pada durasi perang ini. Beberapa negara pasti enggan terlihat memihak Israel dalam konflik.

Serangan mematikan Israel di Gaza sebagai balasan atas aksi Hamas Oktober 2023, plus intervensi militernya di Lebanon dan Suriah, sudah memperkeruh hubungan antar negara Arab. Mereka juga murka ketika Israel membom Qatar tahun lalu dalam upaya membunuh pemimpin Hamas.

Namun begitu, serangan Iran ini rupanya punya efek lain: memperkuat persatuan di antara negara-negara Teluk.

Enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman bertemu dalam sesi darurat Minggu lalu. Mereka menyatakan solidaritas dan berjanji akan “mengambil semua tindakan perlu” untuk menjaga keamanan dan stabilitas. Mereka juga berkomitmen “melindungi wilayah, warga, dan penduduknya,” termasuk opsi untuk menanggapi agresi.

Anwar Gargash, penasihat diplomatik senior untuk presiden Uni Emirat Arab, sudah mengingatkan Iran lewat unggahan di X.

“Perang Anda bukan dengan para tetangga,” tulisnya.

“Kembalilah ke lingkungan Anda, dan hadapi tetangga dengan akal sehat serta tanggung jawab, sebelum lingkaran isolasi dan eskalasi ini makin meluas.”


(ita/ita)

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar