Artinya, untuk kebutuhan jangka pendek seperti menyambut Lebaran, masyarakat tak perlu resah. Pasokan minyak mentah, BBM, sampai LPG masih tercukupi.
Dampak Konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz
Isu ketahanan energi ini makin relevan dibicarakan ketika melihat gejolak di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memanas dalam beberapa hari terakhir. Serangan balasan Iran ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS menambah suhu politik yang sudah panas.
Pada Minggu (1/3), Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan. Klaim itu kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran.
Yang bikin was-was, media Iran melaporkan Selat Hormuz sudah “secara efektif” ditutup. Meski belum ada pernyataan resmi soal blokade formal, laporan ini cukup membuat pasar energi dunia tegang.
Kenapa? Selat Hormuz itu jalur vital. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan ekspor gas alam cair dari Qatar serta Uni Emirat Arab melewati titik sempit ini. Kira-kira 20 juta barel minyak per hari melintas di sana. Bayangkan jika distribusinya terganggu.
Dampaknya akan terasa global. Harga energi bisa melonjak, dan pasokan bisa tersendat. Untuk Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, situasi ini tentu harus diwaspadai betul. Ketahanan energi nasional yang kuat bukan lagi sekadar wacana, tapi kebutuhan mendesak.
(UDA)
Artikel Terkait
BSI Pastikan Stok Aman Jelang Lonjakan Permintaan Emas 44 Persen
Tim Hukum Yaqut Pertanyakan Keabsahan Kerugian Negara Rp 622 Miliar dalam Kasus Kuota Haji
Gubernur Jabar Siapkan Saluran Darurat untuk Warga di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Guardiola: Kualifikasi Liga Champions Lebih Pentin daripada Gelar Premier League