Pertamina Kaji Alih Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah ke AS

- Selasa, 03 Maret 2026 | 21:15 WIB
Pertamina Kaji Alih Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah ke AS

"Total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20 sampai 25%. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil," jelas Bahlil dalam konferensi pers di hari yang sama.

Tapi, kata dia, pemerintah pasti tidak akan tinggal diam. Beberapa langkah mitigasi sudah disiapkan. Salah satunya ya itu: mengalihkan impor dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. "Dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," tutur Bahlil.

Menariknya, Bahlil memberi penjelasan lebih rinci. Impor dari Timur Tengah selama ini hanya untuk minyak mentah atau crude oil. Sementara untuk BBM jadi, seperti bensin dan solar, Indonesia sama sekali tidak ambil dari sana. Menurutnya, pasokan BBM jadi itu berasal dari kawasan Asia Tenggara, jadi relatif aman dari gejolak Timur Tengah.

Lalu bagaimana dengan LPG? Ini komoditas yang juga vital. Bahlil menyebut impor LPG Indonesia mencapai 7,3 juta ton per tahun, dan akan naik jadi 7,8 juta ton tahun ini. Nah, dari jumlah itu, 70%-nya sudah diambil dari AS. Hanya 30% sisanya yang bersumber dari Timur Tengah, tepatnya Aramco.

Dan masalahnya muncul di sini. Kilang Aramco sendiri dikabarkan ditutup karena kena serangan rudal. "Maka alternatifnya adalah kita switch lagi, supaya kita tidak mengambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz," ucap Bahlil.

Sayangnya, menteri belum bisa merinci negara pengganti mana yang dimaksud. Rencana sudah ada, tapi detailnya masih digodok. Situasinya memang dinamis, dan semua pihak tampaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut sambil menyiapkan skenario terburuk.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar