Kekhawatiran Prancis ternyata beralasan. Barrot mengungkap sebuah insiden yang terjadi hanya sehari setelah operasi itu. "Pada hari Minggu, sebuah hanggar di pangkalan Prancis di Uni Emirat Arab dihantam oleh sebuah drone," ujarnya. Serangan itu semakin mempertegas situasi yang rawan.
Di sisi lain, ada pertanyaan soal kapal induk andalan Prancis, Charles de Gaulle. Apakah kapal itu juga akan dikirim ke kawasan untuk memperkuat posisi? Rupanya tidak. Barrot menjelaskan bahwa Charles de Gaulle saat ini sedang berada di Atlantik Utara. Keberadaannya adalah bagian dari latihan multinasional yang sudah dijadwalkan jauh sebelumnya, bukan respons atas ketegangan di Teluk.
Meski begitu, komunikasi dan koordinasi antara Prancis dan UEA disebutnya semakin intens. "Pertukaran informasi semakin meningkat," kata Barrot. Fokusnya adalah mencari formula terbaik bagaimana UEA bisa bertahan dari serangan-serangan mendatang, sekaligus bagaimana Prancis bisa terus melindungi kepentingannya di wilayah tersebut.
Langkah Prancis ini menunjukkan betapa dinamisnya situasi keamanan di kawasan. Mereka tak mau mengambil risiko. Dengan Rafale yang sudah berada di tempat, setidaknya ada upaya nyata untuk meredam ancaman yang datang dari udara.
Artikel Terkait
Hakim Soroti Keuntungan Suap Hakim Mengalir ke Perusahaan Singapura
Korban Tewas Serangan AS-Israel di Iran Tembus 787 Jiwa, Konflik Meluas ke Lebanon
Pramono Anung Apresiasi JIS sebagai Legacy Anies, Fokus Kini pada Penyempurnaan Akses Transportasi
BoA Dirikan Agensi Sendiri Usai Tinggalkan SM Entertainment Setelah 25 Tahun