Bayangkan ini: dua dari setiap tiga partikel plastik halus yang Anda hirup di kota, ternyata berasal dari ban kendaraan yang aus. Fakta mengejutkan ini muncul dari sebuah penelitian terbaru, dan ia membawa peringatan yang tak bisa diabaikan. Beralih ke kendaraan listrik mungkin tak serta-merta menyelesaikan masalah polusi udara. Malah, bisa jadi memperburuknya.
Selama beberapa tahun belakangan, para ilmuwan mulai sangat khawatir dengan keberadaan mikroplastik di udara. Partikel-partikel super kecil ini sudah ditemukan di mana-mana, bahkan di tempat-tempat yang paling terpencil sekalipun seperti puncak gunung tinggi atau daerah kutub yang beku. Mereka bukan cuma mengganggu keseimbangan alam, tapi juga mengancam kesehatan manusia. Tak heran jika kemudian kandungan mikroplastik dalam air hujan pun dikaitkan dengan tingginya polusi partikel ini di atmosfer.
Lalu, apa bedanya mikroplastik dan nanoplastik? Nanoplastik itu ukurannya di bawah satu mikrometer sangat, sangat kecil. Sementara mikroplastik sedikit lebih besar, antara satu mikrometer hingga satu milimeter. Karena ukurannya yang mikroskopis, terutama nanoplastik, mereka bisa dengan mudah terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru. Beberapa studi menunjukkan partikel ini bisa memicu stres oksidatif dan peradangan, yang ujung-ujungnya berkontribusi pada penyakit pernapasan. Bahayanya bertambah karena di permukaannya, partikel ini seringkali membawa ‘tumpangan’ beracun seperti logam berat atau senyawa hidrokarbon.
Sidik Jari Plastik di Udara
Nah, masalahnya, mencari tahu sumber pasti mikroplastik di udara itu sulit. Metode pengamatan biasa punya keterbatasan, terutama untuk mendeteksi partikel berukuran nano dan mengidentifikasi jenis plastiknya secara akurat.
Namun begitu, sebuah tim peneliti dari Jerman berhasil mengatasi hambatan itu. Mereka berasal dari Institut Penelitian Troposfer Leibniz (TROPOS) dan Universitas Carl von Ossietzky Oldenburg. Dalam studi yang terbit di jurnal Communications Earth & Environment akhir 2025 lalu, mereka memakai teknik canggih bernama kromatografi gas–spektrometri massa pirolisis (Py-GC-MS) untuk mengidentifikasi “sidik jari” kimia plastik di udara. Intinya, mereka bisa melacak jenis polimernya.
Mereka memfokuskan pada 11 jenis polimer umum, termasuk partikel dari keausan ban, polietilen (PE), PVC, PET, dan lain-lain. Sampel udara diambil dari jalan arteri yang padat di Leipzig, Torgauer Strasse, selama dua minggu di September 2022. Alatnya menyedot 500 liter udara per menit, memberikan gambaran yang sangat detail tentang komposisi plastik di area lalu lintas tinggi.
“Hal ini memberi kami gambaran yang terfokus dan detail tentang komposisi mikro-nano plastik di daerah dengan lalu lintas padat,” jelas Ankush Kaushik, mahasiswa doktoral di TROPOS yang terlibat dalam penelitian.
“Sepengetahuan kami, studi ini merupakan kuantifikasi mikro- dan nanoplastik di udara yang dipisahkan berdasarkan ukuran dan resolusi polimer pertama di Jerman,” tambahnya.
Hasilnya? Cukup mencengangkan. Sekitar 65 persen atau sekitar dua pertiga plastik di udara ternyata berasal dari keausan ban kendaraan. Polimer lain seperti PVC atau PET terdeteksi dalam jumlah yang jauh lebih kecil, dan polusi ini berkorelasi kuat dengan emisi lalu lintas kendaraan.
Tim lalu menghitung berapa banyak partikel ini yang terhirup. Estimasi mereka, seseorang yang terpapar di lokasi itu selama 24 jam bisa menghirup sekitar 2,1 mikrogram partikel plastik. Jumlahnya terdengar kecil, setara 0,7 miligram per tahun. Tapi jangan salah.
Artikel Terkait
Wali Kota Bekasi Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Staf TU Diduga Kirim Video Porno ke Siswa
Wamen Bima Arya Tegaskan Penugasan Praja IPDN di Aceh Tamiang adalah Misi Kebangsaan
Golkar Prihatin dan Ingatkan Kader Usai Bupati Pekalongan Terjaring OTT KPK
Menaker Tegaskan THR Wajib Dibayarkan Penuh Paling Lambat H-7 Lebaran