New York: Dolar AS melesat. Pada Senin, 2 Maret 2025, mata uang Amerika itu meroket ke level tertingginya dalam lebih dari lima minggu. Apa pemicunya? Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang memicu gelombang ketakutan di pasar, mendorong investor berburu aset-aset yang dianggap aman.
Indeks dolar, pengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat naik 0,8 persen ke posisi 98,38. Angka itu adalah level puncak sejak akhir Januari lalu, menurut data dari Investing.com yang dirilis Selasa (3/3/2026).
Konflik Picu Pelarian ke Safe Haven
Pemicu gejolak ini jelas: konflik militer di Timur Tengah yang memanas. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran di akhir pekan, yang dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Iran pun membalas. Hingga Senin, laporan ledakan masih terdengar di sejumlah wilayah termasuk Israel, UEA, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Presiden Donald Trump bersikukuh. Serangan lebih lanjut, katanya, akan terus dilakukan "selama diperlukan." Pernyataan itu semakin menggarisbawahi risiko perang berkepanjangan dan memperdalam kecemasan di kalangan pelaku pasar.
David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation, mengamati fenomena ini.
"Dolar AS melonjak lebih tinggi semalam dalam pergerakan yang membuat Indeks Dolar mencapai level tertinggi lima minggu," ujarnya.
"Pergerakan ini menunjukkan dengan kuat bahwa dolar AS tetap menjadi mata uang safe-haven pilihan bagi investor. Mereka yang menyerukan pelemahan lebih lanjut karena isu de-dolarisasi, mungkin agak terlalu cepat bersemangat," tambah Morrison.
Artikel Terkait
Pembangunan Sabo Dam di Marapi Dimulai untuk Antisipasi Lahar Dingin
Iran Serang Kapal Tanker Sekutu AS di Selat Hormuz, Ketegangan Global Meningkat
Pemprov NTB Pastikan Seluruh PMI dan Jemaah Umrah di Timur Tengah dalam Kondisi Aman
Bayi Perempuan Ditemukan Hidup di Tas Hitam, Ibu Kandung Ditangkap