Dubes Iran Desak D-8 Kutuk Serangan AS-Israel Jelang KTT di Jakarta

- Selasa, 03 Maret 2026 | 05:45 WIB
Dubes Iran Desak D-8 Kutuk Serangan AS-Israel Jelang KTT di Jakarta

Memang, serangan yang memicu semua ini bukanlah insiden kecil. Operasi militer gabungan AS-Israel itu langsung menyasar jantung kekuasaan di Teheran. Kabarnya, serangan udara besar-besaran itu berhasil melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran dan menewaskan sejumlah tokoh kunci, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Situasinya langsung memanas.

Sebagai respons, Iran pun tak tinggal diam. Mereka meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan beberapa negara Teluk. Ketegangan di kawasan itu melonjak drastis dalam hitungan hari.

Di tengah gejolak inilah peran D-8 menjadi sorotan. Organisasi yang fokus pada kerja sama ekonomi ini anggotanya antara lain Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran sendiri, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Turki, plus Azerbaijan yang baru gabung akhir 2024. Dan kebetulan atau mungkin tepat waktu Indonesia memegang ketuaan dan akan menjadi tuan rumah KTT ke-12 pada April 2026 mendatang.

Tema yang diusung pun relevan: “Navigating Global Shifts: Strengthening Equality, Solidarity and Cooperation for Shared Prosperity”. Intinya, memperkuat solidaritas negara-negara Global Selatan di tengah turbulensi geopolitik dunia. Rencananya, KTT di Jakarta nanti tak cuma bahas ekonomi lewat forum bisnis dan Halal Expo, tapi juga akan menjadi panggung diplomasi yang krusial.

Nah, dalam konteks inilah desakan Iran datang. Mereka ingin solidaritas itu diwujudkan dalam bentuk yang sangat konkret: sebuah kutukan resmi. Bagi Teheran, ini adalah ujian nyata bagi semangat kerja sama yang selama ini digaungkan. Apakah forum ini akan sekadar bicara kemakmuran, atau juga berani menyuarakan keprihatinan politik anggotanya? Pertanyaan itu kini menggantung, menunggu jawaban dari Jakarta dan ibu kota negara anggota D-8 lainnya.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar