Dokumen Ungkap Upaya Terakhir Epstein Beli Istana Rp248 M Sebelum Ditangkap

- Minggu, 01 Maret 2026 | 01:45 WIB
Dokumen Ungkap Upaya Terakhir Epstein Beli Istana Rp248 M Sebelum Ditangkap

Minatnya pada Maroko tampaknya makin menjadi setelah dia bebas dari tahanan rumah pada 2010. Dokumen menunjukkan, di tahun yang sama, Epstein meminta mantan menteri kabinet Inggris, Peter Mandelson, untuk mencarikan asisten yang bisa "menemukan rumah di Marrakesh".

Epstein juga kerap berkunjung ke Maroko sejak 2012 dan diketahui tinggal di kawasan Palmeraie yang eksklusif. Dia bahkan berteman dengan Jabor al Thani dari keluarga kerajaan Qatar, yang dipanggilnya "saudara Arabnya".

Negosiasi Alot dengan "Tuan Kiss"

Pencarian properti ini banyak dipimpin oleh kekasih Epstein, Karyna Shuliak. Dia yang bolak-balik ke Marrakesh dan melakukan negosiasi. Marc Leon dari Kensington Luxury Properties mengungkapkan, fokus Epstein memang selalu pada Istana Bin Ennakhil sejak 2011.

Pemilik istana itu adalah pengusaha limbah asal Jerman, Gunter Kiss. Epstein awalnya menawar dengan harga yang sangat rendah, yang membuat Kiss tersinggung dan menolak berurusan dengannya.

Epstein pun main belakang. Dia memakai Shuliak dan jaringan lainnya untuk menginspeksi istana. Bahkan pada 2018, Shuliak mengajukan penawaran dengan berpura-pura mewakili miliarder teman Epstein, Leon Black. Pada akhirnya, terkuak juga bahwa calon pembeli sejatinya adalah Epstein sendiri.

Negosiasi akhirnya dilanjutkan. Menariknya, sempat ada usulan "strategi penjualan dan pajak" dari agen properti. Intinya, harga yang dicatat ke otoritas Maroko lebih rendah dari nilai sebenarnya, agar pajak yang dibayar Epstein bisa ditekan. Transaksi sisanya akan dicatat lewat saham perusahaan offshore yang memiliki istana tersebut.

Marc Leon membantah keras bahwa skema ini ilegal. "Transaksi ini tidak melanggar peraturan pajak apa pun," tegasnya kepada BBC. Dia menambahkan, Epstein justru ingin membayar biaya pendaftaran di Maroko, meski sebenarnya tidak wajib, agar namanya tercantum di akta.

Pada akhirnya, Epstein memilih jalan membeli saham perusahaan offshore yang menguasai Istana Bin Ennakhil. Dia sedang mengurus pendaftaran kepemilikan atas namanya di Maroko ketika tangan besi hukum AS mendarat di bahunya.

Semua rencana megahnya buyar seketika. Istana yang mungkin dia bayangkan sebagai istana dongeng, atau mungkin benteng terakhir, kini hanya jadi bagian dari berkas perkara yang mengungkap kehidupan gelap seorang Jeffrey Epstein.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar