Kerusuhan di Iran kian meluas. Lebih dari lima ratus nyawa melayang dalam gelombang demonstrasi yang berubah ricuh. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, tak tinggal diam. Dia dengan tegas menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kekacauan yang membakar negaranya.
Untuk menghormati warga yang tewas, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Pengumuman resmi itu keluar pada Minggu (11/1). Mereka yang gugur disebut-sebut sebagai ‘martir gerakan perlawanan nasional’ melawan Amerika dan rezim zionis.
Media pemerintah IRIB, mengutip CNN, melaporkan situasinya sungguh mencekam. “Rakyat Iran berhadapan langsung dengan teroris kriminal yang bertindak bak ISIS,” begitu bunyi pernyataannya.
Laporan itu menambahkan, aksi kekerasan itu menyasar warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan. “Korbannya banyak, tingkat kekerasannya juga luar biasa,” lanjutnya.
Di sisi lain, data dari kelompok HAM berbasis AS, HRANA, memberikan gambaran lain yang suram. Sudah lebih dari seratus anggota pasukan keamanan tewas sejak protes dimulai. Sementara dari sisi demonstran, angka kematian mencapai 500 orang. Belum lagi lebih dari 10.000 orang yang diciduk dalam dua pekan terakhir.
Artikel Terkait
Dari Nisan ke Rusun: Warga TPU Kebon Nanas Akhirnya Dapat Hunian Layak
Anggota DPR Desak KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Kuota Haji
Prabowo Tahan Haru di Banjarbaru, Lanjutkan Agenda ke Malang
Hujan Ekstrem di Jakarta Utara, Ratusan Warga Terpaksa Mengungsi