Suasana di Kabul dan Kandahar saat itu mencekam. Menurut laporan jurnasis dan warga di lokasi, rentetan ledakan keras dan suara jet tempur yang terbang rendah terdengar jelas selama lebih dari dua jam. Tembakan-tembakan menyusul di belakangnya.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengonfirmasi serangan itu melalui media sosial. "Target pertahanan Taliban Afghanistan menjadi sasaran di Kabul, Paktia, dan Kandahar," tulisnya. Kandahar sendiri adalah wilayah penting, tempat pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, bermarkas.
Di sisi lain, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengakui memang ada serangan udara. Namun, dia bersikeras bahwa serangan itu tidak menimbulkan korban jiwa. Klaim ini tentu saja bertolak belakang dengan gambaran situasi yang dilaporkan dari lapangan.
Kini, kedua negara telah saling menghunus pedang. Setelah berbulan-bulan penuh ketidakpastian dan saling tuduh, jalan dialog sepertinya telah tertutup. Apa yang terjadi selanjutnya, hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Enam Pelaku Sindikat Pencurian Besi di Pademangan
Mensos Syaifullah Yusuf Gelar Pertemuan dan Rencanakan Gedung Permanen untuk Sekolah Rakyat
BGN Tegaskan Kabar Pembukaan PPPK Tahap 3 Adalah Hoaks
Tanggal 28 Februari dalam Catatan Sejarah: Rentetan Tragedi dari Perang, Konflik, hingga Bencana