Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan akhirnya meledak menjadi perang terbuka. Hubungan kedua negara tetangga ini memang sudah memanas berbulan-bulan, dan kini situasinya benar-benar tak terkendali.
Perang ini pecah pada Jumat, 27 Februari. Pemicunya adalah serangan militer Kabul ke pos-pos perbatasan Pakistan sehari sebelumnya, yang disebut Taliban sebagai balasan atas serangan udara Pakistan sebelumnya. Namun begitu, akar masalahnya jauh lebih dalam. Sejak bentrokan mematikan Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang, sebagian besar perlintasan perbatasan sudah ditutup. Kepercayaan antara kedua pihak nyaris tidak ada.
Islamabad terus menuduh pemerintah Taliban di Kabul gagal menindak kelompok militan yang mereka anggap kerap menyerang wilayah Pakistan. Tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh Kabul. Beberapa kali negosiasi digelar, dengan Qatar dan Turki mencoba jadi penengah. Sayangnya, semua upaya itu gagal. Gencatan senjata yang dihasilkan cuma bertahan sebentar, lalu situasi kembali memanas.
Ibu Kota Kabul Dibombardir
Respon Pakistan datang keras. Pada Jumat itu juga, militer mereka membombardir sejumlah kota besar Afghanistan, tak terkecuali ibu kota Kabul. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, tak ragu menyatakan kedua negara kini berada dalam kondisi "perang terbuka". Pernyataannya tegas: "Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda."
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Enam Pelaku Sindikat Pencurian Besi di Pademangan
Mensos Syaifullah Yusuf Gelar Pertemuan dan Rencanakan Gedung Permanen untuk Sekolah Rakyat
BGN Tegaskan Kabar Pembukaan PPPK Tahap 3 Adalah Hoaks
Tanggal 28 Februari dalam Catatan Sejarah: Rentetan Tragedi dari Perang, Konflik, hingga Bencana