Sumeleh: Seni Meletakkan Beban di Era yang Tak Pernah Berhenti Berdering

- Rabu, 28 Januari 2026 | 02:06 WIB
Sumeleh: Seni Meletakkan Beban di Era yang Tak Pernah Berhenti Berdering

Notifikasi ponsel terus berdering tanpa henti. Di tengah hiruk-pikuk itu, kita, generasi sekarang, kerap terpelanting ke dalam pusaran kecemasan yang melelahkan. Rasanya tuntutan untuk selalu produktif, tampil sempurna di media sosial, dan takut ketinggalan informasi sudah jadi santapan rutin. Tak heran, banyak yang kemudian berlari mencari ketenangan ke segala penjuru mulai dari staycation mahal sampai kelas meditasi berbayar.

Padahal, kalau kita mau menengok sedikit ke belakang, leluhur kita di Nusantara punya jawabannya. Khususnya dalam budaya Jawa, ada sebuah warisan kebijaksanaan yang luar biasa untuk menjaga kewarasan. Namanya: Sumeleh.

Makna yang Sering Salah Kaprah

Banyak orang mengira sumeleh itu cuma soal pasrah. Sikap lembek, menyerah begitu saja, atau masa bodoh. Tapi sebenarnya, pemahaman itu keliru. Maknanya jauh lebih dalam dan ini penting bersifat aktif.

Secara harfiah, kata dasarnya adalah 'seleh' yang artinya 'meletakkan'. Nah, dalam konteks kehidupan, sumeleh bisa dimaknai sebagai seni untuk meletakkan beban hati pada tempatnya. Ini adalah sikap mental dimana seseorang sudah berusaha mati-matian, berikhtiar sepenuh tenaga, lalu dengan kesadaran penuh melepaskan keterikatan pada hasil akhirnya.

Falsafah ini mengajarkan satu hal mendasar: wilayah kita cuma sebatas 'usaha'. Soal 'hasil', itu sudah ranah yang Maha Kuasa. Menurut sejumlah saksi yang mendalami, stres dan kegelisahan justru muncul saat kita nekad ingin mengendalikan sesuatu yang jelas-jelas di luar kendali kita.

Kaitannya dengan Dunia Kita Sekarang?

Sangat nyata.

Pikiran kita sering kalut karena terlalu khawatir tentang masa depan yang belum terjadi, atau terperangkap menyesali hal-hal yang sudah lewat. Lihat pencapaian orang lain di Instagram, langsung merasa diri kurang. Kecemasan digital itu nyata adanya.

Nah, sikap sumeleh hadir sebagai penangkalnya. Ia berfungsi seperti rem darurat saat pikiran kita melaju kencang tanpa kendali. Mempraktikkan sumeleh pada dasarnya adalah berbicara pada diri sendiri:

"Sudah, bagian saya sudah saya lakukan dengan baik hari ini. Untuk sisanya, saya serahkan. Biarkan alam semesta yang mengatur."

Efeknya ke Pikiran dan Tubuh

Dari kacamata sains, kondisi sumeleh ini mirip dengan keadaan mindfulness atau flow. Saat seseorang benar-benar bisa 'meletakkan' bebannya, gelombang otaknya perlahan turun dari frekuensi Beta yang identik dengan siaga dan stres menuju Alpha, kondisi yang lebih rileks dan tenang. Justru di frekuensi inilah kreativitas dan kejernihan berpikir muncul.

Jadi, sumeleh sama sekali bukan pertanda kelemahan. Justru sebaliknya, ini adalah tanda kedewasaan mental dan spiritual. Kemampuan untuk tetap tenang meski badai datang, untuk berdamai dengan segala ketidakpastian hidup.

Mungkin di tengah kebisingan dunia digital ini, kita perlu sesekali berhenti. Ambil napas, duduk sejenak, dan belajar pada ilmu kuno ini. Cobalah untuk 'meletakkan' apa yang tak perlu kita pikul terus-menerus. Bagaimanapun, bahu kita diciptakan bukan untuk menanggung seluruh beban dunia, tapi untuk bersujud dengan ikhlas dan bekerja secukupnya.

Rahayu.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar