Notifikasi ponsel terus berdering tanpa henti. Di tengah hiruk-pikuk itu, kita, generasi sekarang, kerap terpelanting ke dalam pusaran kecemasan yang melelahkan. Rasanya tuntutan untuk selalu produktif, tampil sempurna di media sosial, dan takut ketinggalan informasi sudah jadi santapan rutin. Tak heran, banyak yang kemudian berlari mencari ketenangan ke segala penjuru mulai dari staycation mahal sampai kelas meditasi berbayar.
Padahal, kalau kita mau menengok sedikit ke belakang, leluhur kita di Nusantara punya jawabannya. Khususnya dalam budaya Jawa, ada sebuah warisan kebijaksanaan yang luar biasa untuk menjaga kewarasan. Namanya: Sumeleh.
Makna yang Sering Salah Kaprah
Banyak orang mengira sumeleh itu cuma soal pasrah. Sikap lembek, menyerah begitu saja, atau masa bodoh. Tapi sebenarnya, pemahaman itu keliru. Maknanya jauh lebih dalam dan ini penting bersifat aktif.
Secara harfiah, kata dasarnya adalah 'seleh' yang artinya 'meletakkan'. Nah, dalam konteks kehidupan, sumeleh bisa dimaknai sebagai seni untuk meletakkan beban hati pada tempatnya. Ini adalah sikap mental dimana seseorang sudah berusaha mati-matian, berikhtiar sepenuh tenaga, lalu dengan kesadaran penuh melepaskan keterikatan pada hasil akhirnya.
Falsafah ini mengajarkan satu hal mendasar: wilayah kita cuma sebatas 'usaha'. Soal 'hasil', itu sudah ranah yang Maha Kuasa. Menurut sejumlah saksi yang mendalami, stres dan kegelisahan justru muncul saat kita nekad ingin mengendalikan sesuatu yang jelas-jelas di luar kendali kita.
Kaitannya dengan Dunia Kita Sekarang?
Sangat nyata.
Artikel Terkait
Indramayu Terendam, Warga Bertahan Demi Jaga Harta yang Tersisa
Diam yang Mematikan: Saat Remaja Kehilangan Ruang untuk Bercerita
28 Perusahaan Dicabut Izinnya, Lahan Dikuasai Negara Diduga Picu Bencana di Aceh hingga Sumbar
Iran Tegaskan: Tetangga yang Bantu AS Akan Dianggap Musuh