Di sisi lain, tidur jadi nggak nyenyak. Meski mata terpejam, tubuh kita sebenarnya sibuk mencerna. Alhasil, istirahat jadi nggak maksimal. Bisa-bisa bangun malah merasa lelah, padahal baru saja tidur.
Lalu, Apa Kata Dokter?
Menurut dr. Coana Sukmagautama, spesialis penyakit dalam dari RS UNS Solo, kebiasaan ini memang kurang baik. Posisi tidur dengan perut penuh sangat memicu naiknya asam lambung.
Ia menjelaskan, butuh waktu sekitar 2-4 jam bagi lambung untuk memproses makanan. Pada orang dengan gangguan pencernaan, prosesnya bahkan bisa lebih lama, sampai enam jam.
"Sebaiknya beri jeda minimal dua jam sebelum berbaring," sarannya.
Misalnya, sahur selesai jam 1 pagi, baru aman untuk rebahan sekitar jam 3. Bagi yang lambungnya sensitif, jeda ini wajib hukumnya. Kalau ngantuk banget sebelum waktunya, coba duduk atau bersandar saja dulu. Jangan langsung telentang.
Jadi, Berbahaya atau Tidak?
Jawabannya nggak mutlak. Tapi risikonya jelas ada, apalagi buat yang punya riwayat maag atau GERD. Intinya, beri waktu bagi tubuh untuk mencerna.
Dengan mengatur jeda antara makan dan tidur, kita bukan cuma menghindari sakit perut. Tapi juga menjaga kualitas tidur dan berat badan. Dengan begitu, ibadah puasa di Ramadan 2026 bisa tetap lancar dan tubuh pun tetap fit.
Artikel Terkait
Mensos Syaifullah Yusuf Gelar Pertemuan dan Rencanakan Gedung Permanen untuk Sekolah Rakyat
BGN Tegaskan Kabar Pembukaan PPPK Tahap 3 Adalah Hoaks
Tanggal 28 Februari dalam Catatan Sejarah: Rentetan Tragedi dari Perang, Konflik, hingga Bencana
DPR Desak Pemerintah Antisipasi Dampak Perang Terbuka Pakistan-Afghanistan