Di sisi lain, AS sendiri tampaknya bersiap. Mereka sudah mengizinkan staf kedutaan non-darurat untuk meninggalkan Israel. Langkah ini seiring dengan ancaman Washington yang terus menggantung di udara, disusul pula dengan dorongan untuk pembangunan militer terbesar di Timur Tengah dalam puluhan tahun terakhir.
Yang menarik, semua ini terjadi hanya selang sehari setelah pembicaraan rahasia antara Iran dan AS di Oman. Banyak yang berharap pertemuan itu jadi upaya terakhir untuk mencegah perang. Namun begitu, optimisme itu cepat meredup. Teheran dengan tegas memperingatkan Washington agar menurunkan apa yang mereka sebut "tuntutan yang berlebihan" jika ingin ada kesepakatan.
Nah, kembali ke China. Imbauannya tidak hanya untuk yang sudah di sana. Kemlu Beijing juga menyebut, untuk sementara waktu, hindari dulu rencana perjalanan ke Iran. Situasinya dianggap terlalu berbahaya.
Mereka tak tinggal diam. Kedutaan dan konsulat China di Iran serta negara-negara sekitarnya siap memberikan bantuan. Bagi warga yang ingin keluar, baik lewat penerbangan komersial atau jalur darat, bantuan akan disediakan. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya mereka menanggapi eskalasi yang terjadi.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Kepala Seksi Intelijen Cukai sebagai Tersangka Ketujuh dalam Kasus Suap Bea Cukai
Warga AS Jadi Korban Pengeroyokan Sopir Taksi Online di Batam
Menteri Kominfo Ingatkan Masyarakat Waspada Lonjakan Penipuan Digital Jelang Lebaran
Prabowo dan Trump Sepakati Perjanjian Dagang, Tarif Impor AS ke Indonesia Turun Signifikan