“Untuk mengontrol, mengingatkan agar kesucian politik tetap terjaga. Karena pesantren ini tempat orang-orang yang baik.”
Namun begitu, perhatiannya tak hanya pada dunia politik. Kepada para santri yang hadir, Saan menyelipkan pesan pribadi yang dalam. Ia berpesan agar mereka tak pernah berhenti menuntut ilmu. Keterbatasan ekonomi atau fasilitas, kata dia, jangan sampai jadi penghalang.
Saan lalu bercerita tentang masa kecilnya yang serba kekurangan. Ia menjalani pendidikan SD tanpa sepatu dan seragam yang layak. Bahkan, lebih dari sebelas tahun waktunya dihabiskan untuk menggembala kambing.
“Jangan pernah berhenti terus menjalani pendidikan sampai yang tertinggi, sampai kita siap berkompetisi dalam kehidupan yang sesungguhnya. Karena ilmu tidak ada habisnya, dengan ilmu kita bisa menjadi apapun,” tandasnya.
“Kedua, tentang kesucian hati, semua disasarkan pada niat yang baik. Karena dengan niat yang baik, orang punya harapan.”
Pesan itu menggantung di udara, disambut hening yang penuh makna. Sebuah momen sederhana di bulan Ramadan, antara dunia politik yang kerap dicurigai dan dunia pesantren yang penuh ketulusan, bertemu dalam satu ruang.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 4,1 Guncang Laut di Maluku Barat Daya
Sidang Vonis Korupsi Pertamina Ricuh, Ditunda hingga Dini Hari
Siswi SMP Dibawa Kabur dan Jadi Korban Pencabulan Usai Dikenal di Grup WhatsApp
Kemenag Tegaskan Zakat Wajib, Ajak Umat Tingkatkan Kedermawanan Melampaui 2,5%