Jakarta – Di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, suasana Rabu pagi itu tampak khidmat. Letjen TNI Richard Tampubolon, selaku Kepala Staf Umum TNI, secara resmi membuka Rapat Koordinasi Intelijen untuk Tahun Anggaran 2026. Acara yang digelar pada 25 Februari 2026 ini juga dihadiri oleh Asisten Intelijen Panglima TNI, Mayjen TNI Rio Firdianto.
Rakor ini bukan sekadar pertemuan rutin. Forum ini punya peran strategis: mengonsolidasikan peran intelijen demi mendukung setiap keputusan pimpinan TNI. Tujuannya jelas, menyelaraskan langkah dalam menghadapi dinamika keamanan yang, mau tak mau, bergerak sangat cepat.
Dalam arahannya, Kasum TNI tak menampik beratnya tantangan yang dihadapi. Lingkungan strategis kini berubah dengan kompleks, penuh dimensi yang saling bertautan. Ancaman tak cuma datang dari hal-hal konvensional, tapi sudah merambah ke spektrum nonmiliter. Hal ini, tentu saja, menuntut ketepatan analisis dan kecepatan respons yang luar biasa.
“Di dalam era saat ini memang tantangannya itu berat,” ujar Letjen Tampubolon.
“Geopolitik saat ini di kawasan Indo Pasifik, dan terakhir, tantangan nasional bersifat multi dimensi.”
Artikel Terkait
Harga Emas Limbung Imbas Lonjakan Minyak dan Inflasi AS
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Seminggu Usai Gagalnya Perundingan AS-Iran
Darma Henwa Pertimbangkan Dividen Pertama Usai Laba Bersih Melonjak 7.697%
Keluarga Daeng Mamala Hibahkan 20 Hektare untuk Pesantren dan RS Al-Khairaat di Morut