“Maka saya muter terus untuk terus memastikan itu berjalan dengan baik,” imbuh Zulhas, menggambarkan kesibukannya memantau lapangan.
Di sisi lain, isu impor ini sebenarnya sempat memicu kekhawatiran. Sebagian publik bertanya-tanya, apakah kesepakatan dagang dengan AS akan berdampak pada petani dan peternak lokal.
Menanggapi hal itu, Fithra Faisal Hastiadi, Tenaga Ahli Utama Bakom RI, memberikan penjelasan terpisah. Dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Rabu (25/2), ia menegaskan bahwa produk yang dibeli dari AS dirancang agar tidak bersinggungan langsung dengan pasar domestik.
“Nah, secara umum, apa yang dibeli dari US, itu adalah sebenarnya produk-produk yang tidak bersinggungan langsung dengan produk-produk di dalam negeri,” papar Fithra.
Ia menekankan, komitmen impor tersebut tidak akan sangat mengganggu produksi dalam negeri. Sebagai contoh, ia menyebut rencana impor beras.
“Misalnya beras, itu sangat limited. Karena mereka juga bukan produsen beras juga. Tidak banyak juga,” jelasnya. “Jadi tidak mengganggu secara umum kapasitas nasional.”
Dengan kata lain, menurut Fithra, impor yang dilakukan sifatnya sangat terbatas dan tidak akan mengancam pemasaran hasil panen petani kita. Pemerintah, lewat dua pernyataan ini, berusaha menepis keraguan dan menegaskan bahwa ketahanan pangan lokal tetap menjadi prioritas utama.
Artikel Terkait
Sidang Korupsi Minyak Mentah Berlanjut hingga Dini Hari, Enam Eks Petinggi Pertamina Divonis 9-10 Tahun Penjara
Kemenag-British Council Latih 613 Guru Bahasa Inggris Madrasah
Prabowo Berbuka Puasa Bersama Seluruh Pemimpin Uni Emirat Arab di Abu Dhabi
Masjid Jami Koba: Saksi Bisu Sejarah di Balik Renovasi Megah