Di Sentra Terpadu Inten Soeweno, Bogor, suasana rapat terasa cukup padat. Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, tampak memimpin rapat koordinasi Gugus Tugas Pengendalian Operasional Sekolah Rakyat. Agenda utamanya jelas: membahas masa transisi yang krusial. Bagaimana caranya memindahkan siswa dan guru dari sekolah rintisan menuju gedung permanen yang masih dalam proses pembangunan. Ini pekerjaan besar, dan Agus Jabo menekankan bahwa mitigasi risiko adalah kunci.
“Evaluasi sudah kita lakukan. Sekarang, fokusnya adalah mitigasi untuk perpindahan dan pembangunan sekolah permanen,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).
“Kita sedang dalam masa transisi. Garis besarnya, dari 166 sekolah rintisan itu, tidak semuanya punya calon gedung permanen yang selesai dibangun tahun ini.”
Angkanya memang perlu dicermati. Dari total 166 titik Sekolah Rakyat rintisan, saat ini hanya 98 gedung permanen yang sedang dipersiapkan. Artinya, ada gap yang harus diatasi dengan perencanaan matang. Karena itulah, Agus Jabo mengajak seluruh anggota gugus tugas untuk menyusun skenario simulasi perpindahan. Simulasinya harus detail, dan yang paling penting, berbasis data riil di lapangan.
“Skema dan simulasi memang sudah ada. Tapi gugus tugas ini harus bisa memprediksi berbagai kemungkinan,” tegasnya.
“Terutama untuk nasib siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang nanti akan dipindah ke sekolah permanen yang lokasinya mungkin berbeda kota.”
Artikel Terkait
PDIP Larang Kader Manfaatkan Program Makan Bergizi Gratis untuk Kepentingan Pribadi
TNI Buka Rakor Intelijen 2026, Siap Hadapi Tantangan Keamanan Multidimensi
Menteri Zulhas Bantah Impor Beras dan Ayam dari AS, Klaim Stok Pangan Surplus
Kapolri Ajak Ormas dan Mahasiswa Jadikan Polri Mitra, Bukan Sekadar Penjaga