Di sisi lain, pengembang berusaha meluruskan. "Kami tidak, bukan tidak melaksanakan, kami tidak pernah menolak," katanya. Dia mengaku hanya terkendala.
Kendala itu pun akhirnya disebutkan. Menurut pengembang, sebagian besar warga cluster menolak pembukaan tembok dan bahkan mengancam akan menuntut HDP secara hukum. Surat penolakan tertulis sudah mereka terima sejak Oktober tahun lalu.
Sayangnya, penjelasan ini dianggap Habiburokhman berbelit dan mengulang hal sama. Ketika perwakilan HDP meminta agar tidak dipotong, habislah sudah kesabaran sang ketua.
Suaranya semakin keras. "Keluar! Nggak jelas ini! Luar biasa Anda ini, keluar! Anda sudah diingatkan tiga kali."
Dia menuding perwakilan itu menghalangi pembangunan musala. Dalam sekejap, rapat yang semestinya mencari solusi itu berakhir dengan pengusiran. Ruang yang tadinya hening, pecah oleh suara perintah dan ketegangan yang nyaris terlihat.
Artikel Terkait
Kapolri Gelar Buka Puasa Bersama Ormas dan Mahasiswa, Tegaskan Media sebagai Suara Publik
JPU Soroti Janji Bukti Chat Pemerasan Rp300 Juta yang Tak Sesuai Klaim Ammar Zoni
Anggota DPR Desak Tunda Impor Mobil India, Soroti Ketiadaan Transparansi
Pasangan Residivis di Ponorogo Ditangkap Usai Mencuri untuk Biaya Nikah