Padahal, potensi Venezuela sebenarnya sangat besar. Menurut laporan Reuters, negara itu menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel! Itu setara dengan 17% cadangan global, mengalahkan Arab Saudi sekalipun. Sayangnya, cadangan sebanyak itu tak diimbangi produksi yang memadai.
Produksinya kini hanya sekitar 1 juta barel per hari. Sangat kecil. Bandingkan dengan era 1970-an, saat Venezuela bisa memompa 3.5 juta barel sehari dan menyumbang lebih dari 7% produksi global.
Lalu apa masalahnya? Salah urus, minim investasi, dan tentu saja, sanksi AS yang mencekik selama bertahun-tahun. Cadangan minyak Venezuela sebagian besar berupa "heavy oil" di wilayah Orinoco. Minyak jenis ini lebih sulit dan mahal untuk diolah. Butuh teknologi dan modal besar. Tanpa itu, semuanya hanya tinggal angka di atas kertas.
Jadi, klaim Trump tentang 80 juta barel minyak itu bukan sekadar angka. Ia adalah babak baru dalam sebuah kisah panjang perebutan sumber daya. Sebuah narasi yang mengubah Venezuela salah satu pendiri OPEC dari negara berdaulat menjadi mitra yang dipaksakan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Disambut Hangat Diaspora dan Mahasiswa Indonesia di Abu Dhabi
Persib Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan di GBLA Saat Hadapi Madura United
Pemkab Bogor Siapkan 55 Bus Gratis untuk Mudik Lebaran dari Stadion Pakansari
Ledakan Bahan Peledak di Fasilitas Dekat Zurich Lukai Dua Orang