Bandung malam itu riuh. Di tengah gemuruh sorak penonton IBL All-Star 2026 di Bandung Arena, ada pembicaraan serius tentang masa depan olahraga nasional. Bukan cuma soal strategi permainan, tapi juga tentang bagaimana memuluskan jalan bagi atlet dan pelaku olahraga dari mancanegara yang ingin berkontribusi di sini.
Direktorat Jenderal Imigrasi, di bawah Kemenimipas, sedang menyiapkan langkah-langkah strategis. Intinya, mereka ingin jadi fasilitator. “Peran kami tidak lagi sekadar pengawas di perbatasan,” ujar Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko. Menurutnya, instansinya punya tugas untuk mendorong sektor-sektor potensial, termasuk tentu saja dunia olahraga.
“Kami akan membentuk tim khusus yang menangani sektor olahraga, dengan begitu para atlet akan lebih mudah dalam proses administrasi,”
kata Hendarsam usai menyaksikan pertandingan, Sabtu (11/4/2026) lalu. Pembicaraannya dengan Antara berlangsung dalam suasana yang cukup cair, jauh dari kesan birokrasi yang kaku.
Tim khusus itu nantinya bakal fokus memberikan kemudahan layanan keimigrasian. Targetnya jelas: atlet asing yang datang ke Indonesia, baik untuk bertanding maupun kegiatan olahraga lain. Ini jadi respons atas tren sportainment yang kian masif, di mana mobilitas atlet dan pelaku industrinya melintas batas negara dengan cepat. Sistem pelayanan yang lambat dan berbelit jelas sudah tak lagi relevan.
Nah, bentuk konkretnya seperti apa? Salah satunya, penyediaan jalur khusus atau fast track di bandara. Bayangkan, atlet yang baru saja menempuh penerbangan panjang tak perlu lagi berdesak-desakan mengantre di pemeriksaan dokumen. Mereka bisa langsung menuju tempat istirahat atau persiapan latihan.
Pemain Asing Dewa United, Donell Cooper II. Dok. Instagram IBLAlasannya sederhana tapi masuk akal. Antrean panjang berpotensi menguras energi dan memengaruhi mood atlet. “Hal itu akan berujung kerugian bagi klub-klub nasional yang dibela,” ujar Hendarsam, merujuk pada liga seperti IBL. Performa di lapangan bisa saja terdampak oleh kelelahan birokrasi yang sebenarnya bisa dihindari.
Di sisi lain, kehadiran atlet-atlet asing ini bukan cuma soal meningkatkan kualitas kompetisi. Mereka, dalam pandangan Hendarsam, juga berperan sebagai duta yang membawa citra Indonesia ke kancah global. Tentu saja, semua kemudahan ini tidak serta merta menghilangkan fungsi pengawasan Imigrasi. Pendekatannya akan lebih pada pembinaan dan pencegahan, termasuk memberi edukasi kepada WNA yang bekerja di sini.
Harapannya ke depan, kebijakan ini tak cuma memperkuat ekosistem olahraga dalam negeri. Tapi juga mendongkrak pergerakan ekonomi, seiring dengan semakin seringnya Indonesia menjadi tuan rumah event olahraga bertaraf internasional. Langkah kecil di konter imigrasi, bisa jadi awal dari sebuah lompatan besar bagi olahraga nasional.
Artikel Terkait
Bogor Hornbills Paksa Laga Penentuan Usai Kalahkan Kesatria Bengawan Solo di Overtime
Zelensky Minta Tambahan Rudal Patriot ke AS di Tengah Serangan Rudal Balistik Rusia yang Meningkat
Pemkot Jakarta Barat Kumpulkan 78 Ekor Hewan Kurban, Distribusikan ke Masjid dan Warga
Simeone Akui Tak Tahu Langkah Julian Alvarez, Spekulasi Hengkang Makin Kuat